Fine, elegant, relax.
Menyesap aperitif berwarna cantik dengan base dari Indonesian spiced rum berpadu passion fruit menjadi awal yang cukup menyegarkan malam itu di tengah suasana temaram elegan. Atmosfer ruangnya yang eksklusif lewat dominasi palet hitam teraksentuasi oleh kesan lebih intimate karena luas space-nya. However, the ambience is rather relax than restricting. This is J.J.A at The St.Regis Jakarta.
Jika Anda penasaran tentang apa kepanjangan dari J.J.A, it stands for John Jacob Astor IV, pendiri hotel St. Regis pertama yang berlokasi di New York. Termasuk sebagai salah satu richest men di Amerika, sayangnya ia bernasib naas lantaran menutup usia di kecelakaan kapal Titanic pada tahun 1912. However, the splendor of The St. Regis that he build continues to this day; becoming the identity of the brand. DNA itu yang terasa di J.J.A. We had a pleasurable dining preview there.
Rangkaian appetizer yang terdiri dari 4 menu dimulai dengan menu Burrata dengan aksen mandarin dan burnt peaches. After we finished this, a sequence of delectable culinary creations followed. Pacific Oysters punya rasa kombinasi bumbu yang polikromatis. Layers dari acidity juga spiciness pada leche de tigre membalut kontras daging tiramnya. Masih di golongan seafood, Hokkaido Scallops hadir lebih light namun tak kalah kompleks berelemen avokad, kaffir lime oil, dan white truffle oil. Sementara Japanese Beef membawa struktur lebih solid namun moist sebagai meat tartar yang dipadankan dengan pickled vegetables.
Olahan pasta fagottini yang berendam dengan cream bercitarasa cheese juga truffle oil yang kuat membawa warna berbeda. Dinamika rasa berlanjut dengan racikan seabass ditemani saus meunière yang secara harmonis memberi highlight pada daging ikannya. Ketika mulai memasuki sesi main course lah lantunan live music yang berasal dari bar di bawahnya mulai terdengar. Tercipta pengalaman kuliner immersive yang tak hanya melibatkan indera pengecap tapi juga keseluruhan lainnya. Dover Sole tadi yang dilengkapi dengan new potatoes sebagai sumber carbo kemudian diikuti roasted chicken yang aromatik dengan thyme jus serta morel mushroom.
Satu menu utama yang sangat impresif pada malam itu adalah steak daging Kiwami Australia bagian ribeye dengan tingkat marbling MB9+. Jenis wagyu istimewa itu mengandung rasa nan ultimate pada setiap kunyahan dengan sensasi melting yang menawan. With a glass of red wine, it was a top notch dinner. Rangkaian makan malam akhirnya ditutup dengan variasi dessert yang dibuat sugar-free atau tanpa menggunakan gula. Layer cake dengan es krim coklat serta saus cocoa nib disajikan bersama menu baked cheese cake berpadanan mango crème fraîche. Yang unik adalah kreasi pisang tanduk goreng terinspirasi jajanan piscok (singkatan dari pisang coklat) yang familiar di masyarakat Indonesia. Perbedaannya terletak pada sapuan rasa charcoal yang khas.
“We are very excited to bring J.J.A. to the city through The St. Regis Jakarta and present our take on contemporary dining to guests and gourmand. Through our table-side service, quality cuisine and unparalleled beverage selection, we strive to provide a dining experience like none other, a destination to celebrate what matters the most with friends old and new,” ungkap Oscar Perez, Director of Culinary, yang bekerja sama dengan Chef de Cuisine Rizky Annisa dan Executive Pastry Chef Kevin Lee mewujudkan suguhan-suguhan exceptional untuk J.J.A.
J.J.A di The St. Regis Jakarta dibuka mulai pukul 6 sore hingga 10.30 malam setiap harinya.