Interpreting Indonesia’s musical heritage.
Penempatan “Lisoi” di penghujung berhasil menyimpulkan konser Simfoni Untuk Bangsa 2022 dalam atmosfer gempita yang segera disambut oleh riuh tepuk tangan penonton. Performa prima nan harmonis dari duet Isyana Sarasvati dan Farman Purnama melebur indah bersama paduan suara Batavia Madrigal Singers di bawah sorot lampu yang menari seiring alunan para pemusik. Tentu saja semua ini tak akan berjalan tanpa Avip Priatna yang memandu orkestrasi.
Lagu tanah Tapanuli karya komponis Nahum Situmorang yang bercerita tentang apresiasi ikatan pertemanan lewat minuman ini begitu pas dengan momen selebrasi 20 tahun eksitensi Jakarta Concert Orchestra. It’s like the cheers for its 2 decades of journey. Sebelumnya bernama Jakarta Chamber Orchestra, kelompok musik ini didirikan oleh Avip Priatna dan Toeti Heraty Rooseno pada tahun 2002. Dalam berbagai performance, orkestra ini kerap tampil bersama Batavia Madrigal Singers yang pada tahun ini memenangkan European Grand Prix for Choral Singing 2022.
Bentuk perayaan atas pencapaian choir itu terwujud dalam sebuah karya khusus dalam konser Simfoni Untuk Bangsa yang ditulis oleh solis tenor Farman Purnama. Di antara berbagai karya yang dibawakan, “Unlock The Key” yang dinyanyikan Farman bersama penciptanya Isyana berhasil menghantarkan klimaks yang tak hanya perihal olah vokal kedua penyanyi, tapi juga aransemen yang dibawakan orkestranya. Di tangan Avip Priatna, lagu progressive rock ciptaan mantan murid vokalnya itu sukses bertranformasi menjadi rupa klasik kontemporer.

Sajian-sajian interpretatif atas lagu-lagu daerah pada konser ini tak kalah mencuri perhatian. Sebuah aksen humor yang disematkan saat tembang Jawa Timur “Rek Ayo Rek” menjadi “penyegar” yang cukup menggelitik. Seperti diungkap sang konduktor, konser yang rutin diselenggarakan sejak tahun 2010 ini – sempat terhenti sejenak akibat pandemi Covid-19 – memang ditujukan untuk melestarikan lagu-lagu Indonesia masa lalu dengan aransemen kekinian selain juga memberi ruang bagi komposisi-komposisi baru dengan elemen-elemen Indonesia.
Tak hanya itu, panggung ini pun hadir untuk membawa spotlight bagi talenta-talenta muda. Contohnya di konser kali ini adalah pianis Filda Salim yang pada babak awal membawakan “Fantasi Indonesia Pusaka” karya Joko Lemazh; sebuah karya yang intens menginterpretasi “Indonesia Pusaka” ciptaan Ismail Marzuki. Dengan berbagai misi positif yang diemban Jakarta Concert Orchestra, tentunya harapan-harapan baik disuguhkan kepada perjalanannya ke depan.