The beauty of Bangkok night with its modern and historical buildings.
“Loh, itu kan yang di ‘King The Land’,” reaksi seorang teman mengomentari dokumentasi digital dari pengalaman makan malam di Saffron River Cruise. Selidik punya selidik, memang benar bahwa ada scene di lokasi itu dalam K-drama yang ditulis oleh Choi Rom tersebut. Agak surprise juga bahwa serialnya ternyata terbilang baru. Episode terakhirnya pada Agustus lalu ditutup bahagia dengan Cheon Sa Rang (Yoona SNSD) yang adalah karyawan biasa menikah dengan Goo Won (Junho 2PM) seorang bos hotel dari keluarga super kaya. Really wondering if there were any real case of this tale happened in Korea, but anyway the cruise dining experience was memorable.
Entah ada kaitannya atau tidak dengan influence dari drama tersebut terhadap aktivitas wisata ini, di sebelah kami waktu itu adalah Korean couple yang ternyata tengah merayakan ulang tahun dari perempuannya – a piano birth day song was played at a moment and all other guests gave their applause. Suasana di dining hall dari cruise ini memang romantis dengan lampu-lampu yang redup. Namun tentu saja kapal pesiar ini bukan hanya untuk pasangan. Kelompok keluarga atau kerabat pun bisa diakomodasi. Sebelum dinner dimulai, pramusaji membawa sebuah wadah untuk proses cuci tangan di mana tangan akan disiram dengan air. Tiga macam kerupuk dan tiga jenis sambal padanan juga dibawakan untuk dinikmati.
Great that the sky was not raining so the top deck experience can be fully enjoyed. Ke bagian top deck inilah semua tamu diantar saat menaiki kapal. Suguhan welcome cocktail diberikan untuk tiap-tiap orang. Sembari menunggu kapal berjalan, minuman itu menemani kami yang duduk menghadap mal IconSiam nan cantik dengan cahaya-cahaya store-nya. Yes, titik berangkat Saffron River Cruise berada di dermaga mal tersebut. Saat itu suasana di sana sangat ramai dengan wisatawan yang hendak berpesiar, dan dengan agak terengah-engah karena setengah berlari menuju port, kami akhirnya masuk ke jalur antrian setelah melakukan penukaran tiket.

Perjalanan dari hotel kami menuju lokasi berangkat kapal memang agak dramatis. Terjadi di weekday, Grab Car yang dipesan berulang kali kami cancel atau dibatalkan driver karena posisi mobil agak jauh dan kala itu kemacetan jam pulang kerja sedang memuncak. Kami mencoba bantuan concierge hotel untuk pemesanan taksi dengan info harga yang lumayan di atas rata-rata namun berskema fixed price. Karena saat itu memang busy hour jadi agak sulit juga untuk mendapat taksi. Menyadari jam terus berdetik, waktu semakin menipis, sementara kemacetan masih terjadi dan most likely telat bila naik mobil, kami infokan ke concierge untuk pembatalan pesan taksi dan beralih ke ojek online. A perfect decision.
It’s arround 6.15 pm and we had to arrive at 7 pm maximum. Menembus traffic jam Bangkok dan pakai Google Translate untuk bilang ke driver agar agak lebih cepat, mission berhasil ditaklukkan. Ini jadi note penting bagi Anda yang ingin menikmati atraksi wisata dinner pesiar di ibukota Thailand tersebut. Alokasikan lebih banyak waktu untuk berangkat ke dermaga biar “aman”. Dermaga ini punya beberapa pier yang masing-masingnya diperuntukkan bagi beberapa cruise ships. Dari segi makanan, bisa dibedakan dua jenis cruise, yakni yang bergaya buffet dan yang serve-to-table. Saffron dari Banyan Tree menyuguhkan 4-course menu yang disajikan secara sequence dengan elegan ke meja masing-masing passenger.
Chef Renu Homsombat yang telah berpengalaman di restoran-restoran Michelin, seperti 3-Michelin Star Schwarzwaldstube dan 2-Michelin Star ECCO, menampilkan napas kultur Thai nan kental pada hidangan Saffron River Cruise. Pada bagian pembuka, wajah kebudayaan itu dibalut dengan kreativitas dan tampilan kontemporer. Piring appetizer datang berisi 3 kreasi sekaligus dan disarankan untuk menikmatinya dari kiri ke kanan. Spicy Minced Kurobuta Pork Salad berada pada tahap pertama yang renyah segar dengan sensasi herbs yang subtle. Kemudian Steamed Siam Purple Blossom tampil cantik seperti bunga ungu dengan isian caramelized salmon, cashew nut, dan bubuk kurmua – oh we loved it.

Di paling akhir dari rangkaian appetizer adalah Charcoal Grilled River Prawn dengan citrus dressing di atas jumputan sayurannya yang mempersiapkan lidah untuk menyantap menu lebih berat. Sebelum berlanjut ke masakan utama, suguhan sup ikan yang menggunakan pan-seared sea bass datang dengan kuahnya dituang saat mangkuk diletakkan di meja. Gurih-masam bersapu aroma smoky mewarnai palet lidah lewat menu tersebut. Then suddenly the view of Wat Arun or Temple of Dawn majestically appeared bathed in light. Kuil Buddhisme yang merupakan salah satu landmark populer Thailand ini bisa ditelusuri jejak keberadaannya setidaknya hingga tahun 1700-an. Beberapa raja negeri ini turut membantu restorasi kuil tersebut, termasuk King Taksin, King Rama II, dan King Rama III.
Pagoda utama (phrang) setinggi 70 meter di kuil tersebut didesain bergaya Khmer dan dikelilingi 4 pagoda lebih kecil. Arsitektur Wat Arun merepresentasikan gunung Mahameru yang dianggap suci bukan hanya oleh Buddhisme tapi juga Hinduisme dan Jainisme. Gunung tersebut berada sebagai pusat dari kosmologi dalam kepercayaan-kepercayaan tersebut. Salah satu komponen main courses yang disajikan setelah pemandangan temple itu terlewati memiliki bentuk kerucut menyerupai kuil. Di bawah balutan daun yang anggun bersemat kembang terdapat seporsi kecil nasi. Pendampingnya adalah Crispy Softshell Crab dengan saus pedas manis dan acar bawang. Cita rasa Thai yang menggugah selera ini semakin kaya dengan padanan Grilled Marinated Chicken Tight in Green Curry. Saat dirasa, menu ayam yang didalamnya juga terdapat terong ini mirip dengan opor.
Di kala menikmati santapan utama, kapal melintasi Rama VIII Bridge yang gagah berdiri menyambung dua sisi sungai Chao Phraya. Landmark Bangkok berdesain cable-stayed yang ikonis ini rampung pada tahun 2002 untuk mengatasi masalah traffic kota. Tak jauh darinya adalah Bank of Thailand Museum yang menempati area Bang Khun Phrom Palace, yakni former residence dari Prince Paribatra Sukhumbandhu, anak King Chulalongkorn. Pengalaman makan malam ditutup dengan Tossed Banana with Light Coconut Milk yang mengingatkan pada rasa kolak pisang, serta segarnya Mango Ice Cream. Tak menyiakan waktu untuk bisa menikmati suasana cruise malam hari kota ini, kami bergegas ke top deck.

Gelas yang masih terisi red wine kami bawa serta untuk bisa dinikmati sambil cruise berjalan. Di bagian atas kapal ini juga terdapat bar sehingga para penumpang bisa memesan ragam minuman. Sepanjang menyusuri sungai, beberapa bangunan lain yang terlewati di antaranya adalah gereja Katolik Santa Cruz dan Holy Rosary dari abad ke-18. Kedua bangunan itu punya gaya desain berbeda. Santa Cruz Church dengan Renaissance Revival Style, sedangkan Holy Rosary Church dengan Gothic Revival Style. Persamaannya ialah bahwa dua bangunan itu menjadi warna berbeda di tengah kultur dominan Buddhisme di Bangkok sekaligus saksi sejarah akan relasi bangsa Thai dengan bangsa Portugis. Orang-orang Portugis adalah kaum Eropa pertama yang datang ke Negeri Siam.
Menuju penghujung sesi cruise di River of Kings, kapal kembali mengarah ke area IconSiam. Di wilayah ini, pemandangan skyscrapers yang vibran mendominasi. Bisa terlihat wahana bianglala atau ferrish wheel Asiatique Sky dari kejauhan. Overall this has to be on your to-do list in Bangkok. Sebuah pengalaman berbeda dalam menikmati paduan keindahan, histori, dan kebudayaan sepanjang sungai beserta racikan-racikan fine dining istimewa. Saffron River Cruise for New Year celebration maybe?