Pelesir Lintas Era di Semesta Mimpi Didi Budiardjo

Dress code: pieces worn for the bed time stories

 

Imajinasikan skenario ini: Suatu malam, Anda bersama teman-teman menghabiskan fun night dengan pyjamas party. Setelah mendengar – atau di zaman online streaming ini lebih mungkin adalah menonton – dongeng pengantar tidur (means Emily in Paris 3), dan kesadaran mulai meredup seiring mengatupnya kelopak mata, semua yang hadir merasakan diri tertarik masuk ke dalam sebuah portal bersinar hingga kemudian terjatuh di sebuah latar perhelatan mode layaknya MET Gala; but instead of real-life celebrities, it’s fictional fashion icons attending the event.

Carrie Bradshaw juga baru tiba dengan tangannya mengangkat gaun pengantin Vivienne Westwood. Ia lantas disambut oleh Holly Golightly yang sebelumnya sedang bersantai di pojokan menyantap croissant dalam balutan Givenchy party dress dan tiara (every photographer was just obsessed with their interaction). Miranda Priestly yang mengenakan sepatu Prada sibuk membetulkan sunglasses-nya; throwing shade to Cruella – with her black and white updo – who was busy clarifying to people that her dalmantian fur coat is now synthetic. Barbie yang menjelma jadi seukuran manusia membawa misi untuk mematahkan stereotype feminin dengan mengenakan hasil kolaborasinya bersama Karl Lagerfeld (tapi ia mensubtitusi jas dengan faux leather jacket dari kerjasama dengan Moschino).

All felt marvelous until you and friends realized that you all went there by just wearing sleepwear. Thankfully this didn’t turn into a nightmare because after all this is Didi Budiardjo’s realm of dream and he came in offering a fashion rescue, playing the role of a fairy godparent. Piyama ataupun nightgown ditransformasinya menjadi daywear, eveningwear, dan cocktail dress nan glam berhias craftsmanship dalam embroidery rupa beading hingga fringe. Melihat beberapa pieces-nya, terutama yang model dasarnya merujuk pada atasan-bawahan piyama, bisa membawa sedikit gelitik lantaran menyadari semacam adanya fun silliness dalam konsep tersebut; but things like that do happen in a dreamy tale, like a pumpkin that’s magically transformed into Cinderella’s carriage to go to the ball. Sementara itu, sebagian kreasi lainnya – especially the European style gowns – tampil enchanting seolah telah dibubuhi pixie dust. Finally you all wake up with a mix-feeling of humour, adventure, and fascination.

Eksperimen imajinasi tadi adalah sebuah pendekatan untuk menginterpretasi ide sang desainer atas koleksi di show tahun 2022 yang berpusat pada aktivitas tidur – sebagiannya menggunakan stok kain yang belum terpakai. Mengkombinasikan referensi sleeping attire dan hasil inquiry-nya akan mekanisme berjalannya mimpi (hal yang ia pikirkan kala pandemi Covid-19), tercipta rangkaian desain yang berisi sentuhan arbitrariness khas alam mimpi. Aspek cross-culture seperti antara estetika Victorian dan chinoiserie era Rococo maupun kultur mode Tiongkok pada koleksi ini dihasilkan bukan dalam satu misi tertentu (misal alasan akulturasi budaya), melainkan karena memang itu yang tengah diinginkan secara arbitrer dan dinikmati perancangnya melalui sebuah pelesir lintas era di set mimpi.

Satu hal penting untuk digarisbawahi tentang proses kreatif dari pembuatan koleksi ini adalah pilihan sadar Didi dalam berupaya membebaskan diri dari batasan-batasan genre. Berbagai warna dan motif diolah lewat percampuran tanpa batas antara elemen-elemen estetika lintas era yang ia gemari. Sikap membebaskan diri dari batasan-batasan ini penting untuk daya imajinasi dan kreatifitas dapat terus melalang buana guna menciptakan karya-karya. Segenap rancangan-rancangan pada koleksi ini dibalut oleh karakter personal Didi yang memercikkan jiwa romantic-melancholy (makeup model yang dilengkapi dengan ornamen serupa air mata menegaskan feel ini) dan diinjeksi dengan spirit regalia serta napas fantasi yang selalu diterapkannya. On top of that, ia memastikan agar busana-busana tersebut dirancang dengan konsep kemudahan berpakaian sebagaimana yang ditemukannya pada busana dekade 90’an.