A fresh approach to the Titimangsa’s Repertoire.
Dua tahun pandemi menghentikan beragam kegiatan termasuk panggung seni pertunjukan. Ketika pemerintah mulai melonggarkan aturan pembatasan terkait Covid-19, animo masyarakat pun melesat terhadap wilayah seni panggung. Terbukti produksi ke-53 Titimangsa Foundation berupa teater Monolog Inggit Garnasih pada 20-21 Mei 2022 sudah fully booked – dengan 75% kapasitas Ciputra Artpreneur. Happy Salma masih memerankan sosok istri ke dua Presiden Soekarno itu.
Pada 2011-2014, Monolog Inggit karya Titimangsa sudah dipentaskan sebanyak 13 kali. Kini produksi yang diangkat berdasar roman “Kuantar Ke Gerbang” karya Ramadhan KH itu dikemas berbeda dalam bentuk tater musikal didukung Jakarta Concert Orchestra dan Batavia Madrigal Singers. Happy punya alasan sendiri akan ketertarikannya pada sosok Inggit. Baginya, Inggit adalah sosok penting dan saksi berbagai peristiwa masa perjuangan yang dilalui oleh para tokoh pendiri bangsa. Ia juga melihat kisah Inggit sebagai cerminan kedalaman perasaan seorang perempuan. “Ini adalah sebuah fase yang tidak pernah dibicarakan dalam narasi sejarah besar, kisah yang ada di wilayah domestik para pendiri bangsa ini,” ungkap Happy.
Melihat ke belakang, kisah Inggit dan Soekarno berawal dari sebuah affair saat Soekarno masih menjadi suami dari Siti Oetari Tjokroaminoto (istri pertamanya yang merupakan anak dari H.O.S Tjokroaminoto) dan Inggit masih menjadi istri Haji Sanusi, seorang pengusaha yang aktif di organisasi Sarekat Islam. Kala api cinta mulai timbul, Soekarno merupakan anak kos dan Inggit adalah ibu kosnya. Turut didorong oleh permasalahan rumah tangga masing-masing, jalinan asmara dari dua sejoli yang beda 15 tahun itu berlanjut ke tahap pernikahan setelah masing-masing bercerai dengan pasangannya.
Selama 20 tahun pernikahan, Inggit setia mengantar Soekarno lulus dari sekolahnya di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB), mendukung ekonomi keluarga saat Soekarno memulai pergerakan awalnya dalam berorganisasi, menghidupi Soekarno dengan berjualan jamu, alat-alat rumah tangga dan pertanian, merawat semangatnya saat Soekarno ditahan di penjara Sukamiskin, mendampinginya dalam pengasingannya di Ende dan Bengkulu. Ketika Bung Karno akhirnya akan sampai di gerbang Istana menjelang kemerdekaan bangsa, Inggit mengemas barang-barang dan kenangan dalam koper tuanya dan kembali ke Bandung. Inggit memilih menolak dimadu ketika Soekarno menyatakan ingin menikah lagi, meski Inggit dijanjikan menjadi istri utama.
Selain Happy Salma selaku pemain dan produser, pentas ini juga didukung oleh Marsha Timothy (ko-produser), Wawan Sofwan (sutradara), dan Ratna Ayu Budhiarti (penulis naskah). Pementasan yang dibuat atas kerjasama dengan Bakti Budaya Djarum Foundation ini mendapat arahan musikal dari Dian HP (komposer) dan Avip Priatna (konduktor).
Beriringan dengan pementasan juga diselenggarakan live painting dan pameran lukisan “Merekam Inggit” oleh Bayu Wardhana dengan kurator Agus Noor. Lukisan-lukisan dalam pameran ini merekam perjalanan hidup dan batin Inggit Garnasih dalam menyertai Sukarno. Seluruh lukisan dibuat sebagai respon dari pementasan dan dilelang. Hasilnya dimana akan didistribusikan sebagai bentuk partisipasi untuk mewujudkan Museum Inggit.