Melodi 1920s New York Jazz Jiwai Koktail Baru St. Regis Bar Jakarta

An allure of the Prohibition era.

 

Born from the soul of jazz, The St. Regis Bar Jakarta naturally pours cocktails in the same rhythm. Its new sip-list plays like a fresh set for the night. Menu-menu koktail baru dari bar ini membawa Anda ke jazz era 20-an di New York, di mana musik, nightlife, dan narasi identitas terjalin dengan energi sosial-budaya yang bold dan dinamis.

Volume III dari koleksi koktail New York ini telah tersedia sejak akhir bulan lalu. “Each cocktail is rooted in a specific jazz figure, venue, or song from that era,” jelas Bar Manager Paulo Naranjo, yang sebelumnya memimpin bar program di The Ritz-Carlton Millenia Singapore – an Asia’s 50 Best Bars alumnus. “We’re translating personality and rhythm into flavour… The menu functions as a cultural timeline you can taste,” sambungnya.

Some concotions come in pretty decorative appearance. Contohnya adalah 403 Negroni yang ditempatkan di sebuah frame mirip panggung pertunjukan bergaya Art Deco. Nama minuman dengan hint rasa nanas ini merujuk pada kultur kerahasiaan pada speakeasy bars era Prohibition di mana pengunjung harus menyebut password untuk memasukinya – now the ‘403 Forbidden’ appears in a page where your access is denied by an internet server. Referensi spesifik dari 403 Negroni adalah Cotton Club di distrik Harlem yang tenar sebagai tempat berkumpul para mobster, gangster, dan selebriti kulit putih menikmati lantunan dari para legenda jazz kulit hitam. Yes it was an entertainment venue of racial segregartion.

Era Prohibition memang punya sumbangsih menarik pada drinking culture maupun perkembangan musik. Ketika masa industrialisasi mulai booming di Amerika Serikat, jam kerja menjadi semakin brutal, dan budaya minum menjadi concern masyarakat luas karena dilihat meningkatkan problem akibat kemabukan. Dari masalah kekerasan rumah tangga, kecanduan, hingga kemiskinan. Kesadaran sosial ini semakin lama menjadi lebih teroganisasi dan membentuk kelompok-kelompok anti-minuman-alkohol yang berpengaruh pada elektabilitas pemain politik. Politisi yang mengkampanyekan larangan minum alkohol menjadi lebih populer untuk meraih suara.

Perang Dunia I, di mana Jerman sang produsen bir menjadi oposisi Amerika Serikat, menambah sentimen negatif warga akan alcoholic beverages. Tambahan pula, grain yang digunakan untuk membuat minuman alkohol dipandang masyarakat Amerika Serikat sebagai bentuk kemubaziran karena akan lebih berguna untuk menopang supply makanan bagi para tentara. Puncak dari segala isu-isu ini adalah disahkannya Volstead Act secara nasional untuk melarang produksi, impor, dan penjualan minuman beralkohol. Pengesahaaan legal yang terjadi di tahun 1919 itu resmi memulai Prohibition Era yang justru menumbuhkembangkan kultur bawah tanah akan bar, alkohol, dan musik Jazz.

Salah satu musisi legendaris yang tampil di Cotton Club adalah Duke Ellington yang turut menginspirasi penciptaan beberapa koktail baru di St. Regis Bar Jakarta. Duke of Jazz No.2 merupakan refined cognac yang meradiasi komposisi-komposisi sang pianis yang terkenal salah satunya dengan lagu “In a Sentimental Mood”. Judul ini menjadi ilham lain dari koktail baru St. Regis Bar Jakarta; sebuah minuman di gelas cantik bergagang ramping dengan lapisan rasa guava, star fruit, passionfruit, honey, serta oolong tea berpadu Bacardi Carta Blanca dan Amaro. Sebagai sebuah aransemen musik, “In a Sentimental Mood” yang ditulis Duke Ellington pada 1935 layaknya kanvas yang diinterpretasi secara artistik oleh musisi-musisi lain. Pada 1957, variasi ikonis melodi tersebut muncul lewat duet antara sang komposer orginal dengan Diva Jazz Ella Fitzgerald.

Fitzgerald turut memperkaya inspirasi koleksi koktail baru St. Regis Jakarta. The First Lady pun tericpta dengan basis gin yang dipadu dengan peach butter, fruity green tea, lemon, dan vanila. Pada tahun 1957, Fitzgerald bersama The Delta Rhythm Boyz membuat rendition lagu “It’s Only Paper Moon” yang oleh St. Regis Bar Jakarta diinterpretasi menjadi kreasi minuman Paper Moon. Lagu tersebut mulanya ditulis untuk pertunjukan Broadway “The Great Magoo” (1932) di Coney Island, sebuah area di Brooklyn di mana gansgster dan businessman Al Capone sempat menjadi seorang bartender. Referensi ini dipakai tim St. Regis Bar Jakarta untuk menciptakan Crime-Tender, campuran gin Nikka Coffey, Aperol, Maison Perrier Lemonito, stroberi, dan mint foam yang menampilkan wajah sang villain.

Sisi lebih joyful dari jazz dijumpai dalam inspirasi alunan trumpet Louis Armstrong yang menjelma menjadi bubbly Pop’s di mana Volan Tequila Blanco mendapat layering dengan distilled red berries tea, elderflower, soda stroberi, serta cordial rasa mint dan lime. Speaking about trumpet, Drink Drink Drink yang menampilkan vodka ter-infused mangga Kweni akan disajikan tim St. Regis Bar Jakarta dengan sebuah replika instrumen tiup tersebut. Spirit yang semarak ini juga diolah menjadi Charleston, blended malt whikey Monkey Shoulder yang mendapat sentuhan apple cordial, vanila, dan pop corn, terinspirasi jazz dance bernama sama. Melengkapinya adalah translasi The Savoy Ballroom, dance floor legendaris yang diformulasi menjadi kreasi minuman Happy Feet.

Ketika The Editors Club hadir pada malam peluncuran volume baru dari New York-inspired cocktails tersebut, suguhan pertama yang disajikan di meja adalah Greatest Showman dengan “stiker” tiket di dinding gelas yang bisa dijilat. Sebuah formulasi dengan dasar vodka yang memiliki cita rasa kopi nan creamy. Ilhamnya ialah Carnegie Hall, sebuah tempat konser ternama di New York yang menjadi tempat Benny Goodman melangsungkan pertunjukan ternama Carnegie Hall Jazz Concert pada tahun 1938. Oleh St. Regis Bar Jakarta, Benny sang King of Swing menjelma menjadi Swinging Benny dengan campuran whisky Jura 12-year, Amaretto, cacao, dan vanila.

Another “King” transform into a concoction is Paul Whiteman nicknamed the King of Jazz after by the media after Buescher Band Instrument Company placed a crown on his head in 1923. Jika Anda memesan White King, rona keunguan akan tampak pada gelas silinder yang bersumber dari butterfly pea. Nuansa utama rasanya hadir lewat penggunaan Nikka Coffey Vodka, white wine, egg white, sparkling water, berpadu distilled guava, peach jasmine, lemon, juga lime. Dengan ambience redup nan elegan, serta lantunan jazz performance, St. Regis Bar Jakarta adalah perfect place untuk jazzing up the night secara berkelas.