A sanctuary to enjoy gyokuro, Japan’s most prestigious tea.
This place is truly for those who seek tranquility over a cup of tea. No trendy city vibe like the usual “cozy cafés or coffee shops” that can turn overstimulating with their music and chatter. Just a calm, pared-back space dressed in hushed tones, contemporary minimalism, and, of course, a selection of teas that rewards unhurried attention. Amid the quiet, we’re served a green tea as a welcome drink.
Sedikit bergerser dari Gunawarman ke Jl. Daksa, Issen Tea Bar yang berlokasi di lantai atas dari sebuah Japanese fine dining restaurant bagai sebuah sanctuary untuk Anda yang butuh ketenangan, menjauh sejenak dari riuh kota. Dengan nama dari aksara kanji “一煎” yang berarti first steep atau seduhan pertama – biasanya adalah part paling teraromatik – Issen menyuguhkan pengalaman minum teh dari Sakurai Tea Experience di Tokyo serta digestif-style cocktails berelemen fermentasi, kampo herbs, hingga jamu Indonesia.
Beberapa peramu teh di Issen bekerja nyaris tanpa suara sebagai bagian dari upaya merawat atmosfer yang teduh tenang. Brewing tools disiapkan. Takaran teh maupun derajat air seduhnya mengikuti aturan presisi untuk menghasilkan sajian dengan rasa teroptimal. Pakaian peramu yang menyerupai jas laboratorium merefleksikan bahwa kultur tea drinking sejatinya adalah pengkondisian interaksi molekul alami yang dibingkai menjadi pengalaman estetis.
Teknik whisking traditional kemudian didemonstrasikan untuk membuat minuman berikutnya. Scene ini layaknya sebuah mini performance, di mana tahap demi tahapnya melibatkan gerak dan properti yang punya narasi masing-masing. Daun teh sebagai “bintang utama” telah melewati fase panjang sebelum akhirnya dilibatkan dalam brewing theatre tersebut. Mulai dari dirinya tumbuh selama periode tertentu hingga dipanen dan diolah oleh tangan dan pengetahuan manusia.
Tak lama berselang, segelas Usucha disajikan. Varian minuman matcha ini punya karakter yang lebih light – karena perbandingan volume air dan bubuk matcha dan yang lebih sedikit. This gentle freshness came with some froth at the surface. Sembari menyesapnya, peramu teh menjelaskan bahwa daun teh untuk membuat minuman tersebut hanya dipanen sekali dalam setahun. Pun demikian dengan Gyokuro; sajian teh kedua yang kami nikmati dalam rasa unik nuansa umami. Keunikan tersebut dihasilkan oleh cara tanaman dirawat untuk menghasilkan Gyokuro.
Sebelum mencapai waktu panen, tanaman teh (Camellia sinensis) dipayungi oleh lapisan yang menghalangi sinar matahari selama kurun waktu tertentu. Proses tersebut menyebabkan tanaman teh untuk Gyokuro memiliki kafein lebih tinggi, klorofil lebih banyak (membuat daun lebih gelap), dan asam amino L-theanine di dalamnya meningkat sehingga terbentuk profil sweet-savoury. Metode shade-grown ini juga menyebabkan tingkat bitterness (pahit) dan astringency (sepat) lebih rendah. Dalam tradisi teh Jepang, Gyokuro yang berarti jade dew merupakan minuman teh paling prestisius dan sudah hadir sejak tahun 1830-an.
Usucha dan Gyokuro di Issen kami nikmati bersama padanan nerikiri, golongan kue manis wagashi yang berbentuk bunga cantik dengan isian white bean paste. Tak hanya teh-teh “klasik”, Issen juga menawarkan tea mocktail yang bisa menjadi eksplorasi baru untuk Anda. Bila ingin menikmati klasikalitas dan kontemporaritas sekaligus, Anda bisa memilih beberapa pilihan di Tea Experience Menu, seperti Matcha Experience dan Bancha Experience, yang turut menyuguhkan mocktail sesuai dengan jenis base tea-nya. Pada Gyokuro Experience yang kami coba, teh Gyokuro bahkan dijadikan pula sebagai campuran salad. After all, whichever tea you choose, it becomes a tranquil moment of your own inside Issen Tea Bar.