Hotel Tertipis PituRooms Tak Semata Rekor Arsitektural

Nestled in Indonesia’s second oldest city, Salatiga (ꦯꦭꦠꦶꦒ).

 

Art+otel Menteng, Menara BNI 46, Senopati Suites, Museum Nasional Indonesia, Kemang Women & Children Hospital, sejumlah vila di Bali, dan beberapa cabang Sekolah BPK Penabur di Jakarta adalah sebagian proyek garapan biro arsitektur Aboday. “Aboday is not bound by any grand idealisms or specific style inclinations. We prefer to design relevantly, and by being relevant we intend to bridge the gap between all disciplines involved during the design process of a project. What we design is front and foremost, contextual,” demikian penjelasan yang tertulis di situsnya. Hal senada pun diungkap oleh arsitek Ary Indra, co-founder Aboday, ketika ditanya oleh The Editors Club tentang gaya desain personalnya.

Pertanyaan tersebut kami ajukan kala menikmati makan malam di lantai teratas hotel PituRooms. Suasana super sejuk semakin syahdu dengan dessert wedang ronde yang hangat dan aromatik dari jahenya – and we really liked its chewy ball with crushed peanut filling – ditemani lantunan lagu-lagu mengalun. Sebagian dari area resto sepanjang 950 cm itu difungsikan sebagai space terbuka yang pada saat malam memperlihatkan kerlip indah lampu kota di kaki gunung nan agak jauh. Lebarnya yang hanya 280 cm ditata apik dengan dominasi elemen kayu. Rasio 2.8 m x 9.5 m itu berlaku untuk keseluruhan hotel milik Ary Indra ini. This is probably one of the world’s slimmest hotels with only 7 rooms and 7 floors (‘Pitu’ means ‘seven’ in Javanese).

Mengutip artikel CNN.com, proyek arsitektur ini dimaksudkan Ary Indra bukan soal memecahkan rekor dunia. So what’s the context? Malang melintang di bidang arsitektur dari lulus bangku perkuliahan di Universitas Brawijaya hingga membangun karir di AXIS Architect Planners Singapore selama hampir satu dekade dengan beberapa sabetan penghargaan, haluan hatinya kemudian mengarah kembali ke Salatiga, Jawa tengah. PituRooms adalah hasil ejawantahnya; peleburan tribute, rasa cinta, serta asa visioner terhadap kota tempatnya bertumbuh lewat eksplorasi arsitektural.

Rancang bangun hasil desain studio arsitektur Sahabat Selojene – juga didirikan oleh Ary Indra – yang berkontribusi pada cara baru menikmati kota itu pun merupakan manifestasi perlawanan atas ambisi umum untuk menjadi the grandest. Sebagaimana dikutip dari situs Dezeen, filosofi PituRooms adalah mengaktualisasikan potensi dari limitasi.

Local Celebration
Usai menikmati panorama Gunung Merbabu dengan hawa refreshing di rooftop Pitu Lounge keesokan pagi, sarapan nasi tradisional berisi lauk campur menyapa lidah berkombinasi teh hangat. Bincang kecil bersama beberapa staf hotel yang adalah warga lokal menambah wawasan mengenai kota hidup mereka; termasuk perihal tingginya toleransi antar umat beragama di sana. Lokalitas memang menjadi focal point yang diangkat Ary Indra pada PituRooms. Di lantai dasar dihadirkan Ngopo Ngopi yang menjajakan kopi lokal Salatiga racikan barista setempat. Jika berkunjung di akhir pekan, or staying over the weekend in the hotel, Anda juga bisa menemukan lemon cake dan coffee cake buatan sang arsitek sebagai salah satu penyaluran minatnya yang lain.

Cara Ary Indra mengangkat potensi dan sumber daya lokal tak terbatasi oleh tembok hotel yang ia bangun. PituRooms justru memainkan peran penghubung bagi penikmatan aspek-aspek turisme Salatiga dan area sekita secara lebih luas. Ragam paket ditawarkan hotel ini untuk Anda menikmati keindahan alam juga budaya masyarakat. Contohnya adalah PituTur yang menggabungkan pengalaman menginap dengan aktivitas jalan-jalan ke beberapa spot pelesir, seperti Pasar Papringan di Temanggung yang unik dengan cara transaksi menggunakan koin bambu, Museum Ambarawa di Semarang yang menambah khasanah historis perkeretaapian (where we found the fascinating Edmondson printing ticket machine used here since 1867 until 2009), juga Gumuk Sidul Menul-menul di Salatiga.

Yang disebut terakhir tadi adalah buah karya arsitektur lain dari Ary Indra, sebuah upaya untuk memperkaya pilihan rekreasi warga sekitar maupun turis luar wilayah. Destinasi yang dibangun dengan anggaran kelurahan sekitar Rp 600 jutaan dan memanfaatkan ribuan sulur ranting jati ini terasa menarik oleh karena sisi kontemporer desainnya yang dilingkup oleh lansekap alam. Menaiki 187 anak tangga, view Gunung Telomoyo dan Gunung Andong merelaksasi pikiran bersama dengan semilir dan sepoi pepohonan. Es dawet dan tape goreng pun melengkapi pengalaman kami di area yang dikelola oleh kelompok swadaya masyarakat tersebut sebelum akhirnya check-in di PituRooms. Ada dua cara untuk naik ke lantai kamar. Menggunakan elevator diameter 75 cm untuk satu orang (berteknologi pneumatic sebagaimana kereta cepat Hyperloop milik Elon Musk) atau dengan berjalan naik.

Saat jalan ke atas, didapati ruang didesain artistik dengan karya-karya seniman muda Indonesia terpampang. Sebagiannya bahkan khusus diundang untuk berkarya di lokasi secara langsung. Beberapa seniman Salatiga yang terlibat dalam mengisi PituRooms adalah Alodya Yap yang mengerjakan “Salatiga Pride” dan Nurlaila yang karyanya memanfaatkan pipa ducting AC. Sematan artworks ini membentuk quirky ambience pada interior hotel yang didominasi oleh besi dan beton plester. Melihat bagaimana perwujudan estetika arsitektural maupun interior PituRooms di lahan sangat terbatas, tak heran bila karya Ary Indra itu memenangkan penghargaan Best Design pada ajang Good Design Indonesia 2023 yang diselenggarakan oleh Kementerian Perdagangan.

Perlu dicatat bahwa prestasi itu bukan hanya soal rancangan semata. Penghargaan tersebut diberikan kepada hasil kreatifitas yang selain dianggap memiliki desain baik, tapi juga memiliki dampak jangka panjang yang positif terhadap sekitarnya.

Uniquely Efficient
Kalori yang diterima dari semangkok bakso khas Salatiga rasanya sudah terbakar saat “mendaki” Gumuk Sidul. Setibanya di kamar hotel, lelah terbasuh oleh pancuran air dan baluran body wash dan shampoo dari produk premium lokal Rumah Atsiri. Di salah satu sisi dindingnya terdapat sebuah “lubang intip” yang lewatnya bisa terlihat matahari terbenam memayungi aktivitas penduduk. Of all the unique experiences we had here, this peeping hole was our favourite.

Prasarana sanitary dari American Standard dan Grohe begitu pula bedding dan linen King Koil menandakan bagaimana unsur-unsur penunjang kenyamanan tinggal di PituRooms menjadi konsiderasi penting hotel ini. Televisi yang dapat mengakses Netflix, Amazon Prime Video, Youtube, juga ragam channels siap menemani waktu Anda bersantai di kamar. Pencahayaan di kamar pun bisa diatur sesuai keperluan. Tak terlewatkan adalah aksen-aksen estetik seperti karya visual di dinding, vas berisi tumbuhan, serta kutipan-kutipan yang menambah kesan dari staying experience di PituRooms. Interior tiap kamar dirancang tematik yang berbeda satu dengan lainnya. “Reward” bila Anda tinggal di kamar teratas adalah pemandangan gunung dari jendelanya.

Our room is “Ro” (each room is named after the last syllable of Javanese numbers) with the theme of Slow White. Dominasi warna putih ini padan dengan palet queen bed. Napasnya lebih urban dan bagai sebuah architectural drawing. Di sela-sela aktivitas, kami melihat ke jendela yang menampilkan lalu lalang orang sekitar. Semakin larut, jalan akan semakin sepi. Kamar lainnya ada yang menggunakan sentuhan warna merah dan ada pula yang biru. Jika melihat ke atas, terlihat langit-langit berupa naked waffle ceiling yang memberi sapuan industrial feel. Masing-masing kamar PituRooms berkapasitas maksimal 2 orang.

Tentu saja strategi pemanfaatan ruang sarat fungsi menjadi showcase sang arsitek di hotel ini. Sebuah sudut diberdayakan sebagai minibar lengkap dengan varian snacks, botol minum, kettle pemanas yang diapit oleh cermin dan hanger pakaian. Masih menjadi bagian dari minibar adalah meja lipat yang bisa dibuka bila diperlukan. Lemari pendingin diselipkan di hadapannya. Efisiensi ruang dan maksimalisasi fungsi yang diiringi oleh konsiderasi estetik seperti itu juga diberlakukan pada area-area hotel lainnya. Dengan kata lain, pengalaman menginap di PituRooms tak sekadar unik karena ukuran mininya disiasati sedemikian rupa agar gerak layak tetap terakomodasi, tapi juga dibalut dengan estetika yang terkonsep dalam keterpaduan dengan ragam destinasi sekitar.

Keberhasilan Ary Indra mengolah lahan sepi peminat yang telah lama dimilikinya hingga PituRooms resmi beroperasi pada Desember 2022 tampaknya bukan akhir dari geliatnya di dunia arsitektur. Seperti diungkap oleh arsitek yang memutuskan tinggal di Salatiga pada 2019 silam ini, ada rencana mengembangkan brand PituRooms ke berbagai daerah lain di Indonesia. Bocorannya dibeberkan kala bincang santai sembari menyantap makan malam di Pitu Lounge. Dua lokasi yang terlontar adalah adalah di Bali dan Semarang. Apakah kedua proyek properti itu akan tetap mengadopsi kategori Pet Architecture yang menjawab tantangan arsitektural di lahan sempit? Inilah kabar yang seiring waktu akan diungkap olehnya.

Selepas acara malam itu usai, kami memutuskan untuk melihat-lihat suasana alun-alun kota yang jaraknya sangat dekat dengan hotel dan bisa cepat dicapai dengan berjalan kaki. Nampak muda-mudi menikmati momen santai dengan sekeliling area diisi oleh pedagang-pedagang jajanan. It was a weekend night and it was not crowded. An enjoyable atmosphere for a slow walk or sitting with friends for a chat. Time is not in a rush here. Di Lapangan Pancasila terlihat landmark berupa 3 patung Pahlawan Nasional asal kota ini berdiri tegap. Mereka adalah Marsekal Muda Anumerta Agustinus Adiseotjipto, Laksamana Muda Yosaphat (Yos) Soedarso, dan Brigadir Jenderal Sudiarjo. Here we arrive at the historical layer of Salatiga.

ꦯꦭꦠꦶꦒ: The Rich History, The History of The Rich
Pagi sebelum kembali ke Jakarta, kami berjalan sejenak ke sekitaran hotel dan singgah ke gerai oleh-oleh penganan tradisional. Di sisi-sisi jalan terlihat toko-toko kuno dengan aneka snack jadoel bergaya peranakan. Berada di Jalan Letjend Sukowati tampak Gedung Dekranasda Salatiga yang menarik perhatian. Di dalamnya ada banyak hasil kerajinan yang bagus untuk dijadikan buah tangan. Baik eksterior maupun interior gedung ini adalah campuran antara style Eropa dan Tiongkok. Menurut penelusuran singkat di sumber-sumber daring, gedung itu sudah berdiri sejak 1890 dan merupakan milik seorang Tionghoa yang punya relasi erat dengan Keraton Surakarta Hadiningrat.

Hal tersebut mengingatkan pada apa yang dipaparkan sejarawan Abel Jatayu Prakosa pada sesi dinner tentang kaum high society yang pernah tinggal di Salatiga. Tercatat beberapa di antaranya adalah taipan-taipan berdarah Chinese yang sukses berbisnis hingga ke mancanegara. Salah satunya adalah Oei Tiong Ham (1866-1924) berjulukan Raja Gula yang menguasi pasar Asia Tenggara dengan cabang perusahaan hingga ke New York, London, Singapura, dan Bangkok. Pengusaha yang lahir di Semarang itu membangun sebuah vila di Salatiga. Selain itu ada pula Kwik Djoen Eng (1860-1935) dengan bisnis hasil bumi yang cabang usahanya ada di Eropa, Amerika, dan Cina. Secara politik, ia merupakan pendukung gerakan nasionalis Tiong Hoa di Jawa. Propertinya di Salatiga dulu dikenal sebagai Istana Djoen Eng seluas 12 hektar lengkap dengan kebun binatang, lapangan tenis, juga kebun kopi. He threw a big bash in 1925 to celebrate this palace.

Salah satu Bumiputera sukses yang pernah tinggal di Salatiga adalah Nitisemito (1853-1953). Ratu Wilhelmina dari Kerajaan Belanda menjulukinya De Kretek Konning atau Raja Kretek. His marketing strategy was not a regular advertising. He used a plane to drop flyers from his place to Jakarta. Dalam sidang BPUPKI tahun 1945, Soekarno menyebut namanya sebagai salah satu donatur bagi perjuangan kemerdekaan. Vilanya di Salatiga pernah ia buka untuk pertemuan rahasia dengan Soekarno dan pejuang-pejuang lain. Sosok lain dari tanah Jawa yang tinggal di Salatiga adalah R.A. Kardinah (1881-1971). A society figure who was known along with her sisters R.A. Kartini and R.A. Rukmini as Het Klaverblad (Dutch word means cloverleaf). Dalam hidupnya, anak Bupati Jepara R.M. Ario Adipati Sosroningrat tersebut sadar akan privilege yang ia miliki dan menjalankan aksi nyata untuk membantu dan memberdayakan masyarakat. Di Salatiga ia menghabiskan sisa hidupnya.

Tak mengherankan bila dulu Salatiga menjadi pilihan golongan well heeled untuk membangun vila peristirahatan atau menikmati hari tua. Saat era kolonial, wilayah itu disebut “De Schoonste Stad van Midden Java” yang berarti “Kota Tercantik di Jawa tengah”. Nice view, fresh air, luxury buildings, so what’s the reason to not add more mansions for a getaway right? Menariknya, Salatiga sudah menikmati keistimewaan sejak zaman yang lebih lampau. According to Plumpungan Inscription written on a stone from 750 AD, the area known as Hampran Village back then was a tax haven. Sebagaimana dijelaskan dalam prasasti beraksara Jawa kuno itu, Desa Hampran ditetapkan berstatus Desa Perdikan yang dibebaskan dari kewajiban pajak. Bhanu yang adalah pimpinan di naungan Wangsa Syailendra (dinasti raja-raja Kerajaan Medang atau Mataram Kuno) menganugerahkan predikat itu oleh karena jasa besar wilayah tersebut.

Tanggal tertera pada Prasasti Plumpungan adalah Tahun šaka telah berjalan 672/4/31/ pada hari Jumat (Sukrawara) yang konversinya adalah 24 Juli 750 M. Terhitung sejak tanggal yang oleh pemerintah disahkan sebagai Hari Jadi Salatiga itu, maka usia kota tersebut pada Juli 2024 adalah 1274 tahun; menjadikannya kota tertua kedua di Indonesia (the oldest one is Palembang since 682 AD). Pada prasasti itu pula terdapat penggalan informasi yang mendasari satu hipotesis tentang asal-usul nama Salatiga. Informasi yang dimaksud adalah penyebutan Siddhadewi yang dinyatakan Prof. Dr. R Ng. Poerbatjaraka sebagai nama lain dari Dewi Trisala. Nama dewi itu mengalami proses kebahasaan yang akhirnya menjadi Salatiga yang dikenal hingga kini. Akan tetapi, muasal nama Salatiga juga terkandung dalam sebuah legenda rakyat menarik. It involves a character who loved material wealth so much: Adipati Pandanarang.

Ada berbagai versi dengan detail-detail berbeda tentang kisah sang adipati. Akan tetapi secara garis besar, kisah-kisah tersebut menggarisbawahi misi moral Sunan Kalijaga terhadapnya. Suatu waktu sunan tersebut menyamar jadi penjual rumput dan adipati tertarik untuk membeli karena dilihatnya rumput itu berkualitas bagus. Tanpa empati, ia menawar dengan harga tak layak namun si penjual akhirnya melepas barang dagangannya. Seraya menyerahkan rumput, penjual menyelipkan receh 5 sen di sela rerumputan. Saat staf Pandanarang melaporkan ditemukannya uang tersebut, tersinggunglah hati pembesar itu dan naik pitamnya. Di lain waktu bertemu dengan si penjual, makin tersulut emosi Pandanarang mendengar nasehatnya soal mencari kekayaan dengan cara lebih baik, bukan dengan merampas apa yang jadi hak rakyat jelata.

“Siapa kamu berani menceramahi saya?” kira-kira demikian tanya Pandanarang penuh amarah. Penjual itu minta dipinjamkan cangkul untuk menunjukkan cara mencari harta. Melihat hasil cangkulannya adalah emas, Pandanarang ciut dan malu karena tahu ia tengah berhadapan dengan orang saleh nan sakti. Demonstrasi keajaiban itu sekaligus menyingkap identitas asli Sunan Kalijaga. Alhasil, Pandanarang memutuskan untuk mengikuti sunan sebagai muridnya. Sunan setuju dengan satu syarat bahwa Pandanarang meninggalkan harta bendanya. Istri Pandanarang ingin ikut sang suami namun meminta untuk dirinya berangkat belakangan. Why would she do that? Sadly it’s because the wife was not ready yet to let go of all her possession so that she brought gold and gemstones with her. In her pilgrimage, she was robbed.

Merefleksikan tragedi tersebut dalam sebuah falsafah yang berkenaan dengan kehidupan keluarga Pandanarang, Sunan Kalijaga menyebut tempat yang jadi ujung ganjaran mereka itu sebagai Salatiga. Tiga kesalahan berkehidupan yang dimaksudnya sebagaimana tercermin pada Pandanarang dan istri ialah kikir atau pelit, jemawa atau sombong, dan menyengsarakan masyarakat. Hingga kini Salatiga yang dimaknai sebagai “salah tiga” kerap jadi bahan candaan di mana kemudian akan dirujuk “benar tujuh” sebagai ekuivalennya (seturut sistem 10 pertanyaan yang umum diberikan tenaga pengajar di sekolah). Dari hal ini pula, nama hotel PituRooms terinspirasi.

For sure, PituRooms is not a joke. It’s an architectural accomplishment aiming to build beyond its construction.