Gucci Resort 2023, Konstelasi Inspirasi Alessandro Michelle

A cosmogonie out of memories and inspirations.

 

Alessandro Michele tampak punya ketertarikan tersendiri terhadap pemikiran-pemikiran filsafat. Rujukan ke konsep biopolitics dari filsuf Prancis Michele Foucault ia hadirkan pada koleksi Spring/Summer 2020. Kini di koleksi Resort 2023, ia mengambil referensi buah pikiran filsuf Jerman Benjamin Walter tentang konstelasi. Secara lebih spesifik, yang menjadi fokus Michelle adalah bahasan Walter mengenai konsep konstelasi dalam soal sejarah.

Bagi Walter, sejarah bukan sekadar realita temporal di mana masa lalu dan masa kini dibedakan berdasarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Sejarah baginya adalah konstelasi dari momen spesifik masa kini yang berkaitan dengan kilasan gambar spesifik masa lalu. Sejarah dalam pemahaman Walter bukanlah kaitan sebab-akibat yang “hampa” antara masa lalu dan masa kini, melainkan sebuah keterhubungan eksistensial yang melibatkan memori, harapan atau ekspektasi, dan tindakan.

Michelle mengutip kalimat Walter dalam bukunya “The Arcades Project” yang berbunyi, “It is not that what is past casts its light on what is present, or what its present its light on what is past; rather an image is that wherein what-has-been comes together in a flash with the now to form a constellation.” Apa yang Michelle baca dan pahami tentang konsep sejarah dari Walter tampak menjadi pendekatan metodis yang ia gunakan dalam mengembangkan koleksi Resort 2023. Rancangan-rancangan yang dirilis memberi clues tantang kilasan gambar-gambar apa yang muncul dan diolah kepalanya saat proses kreatif terjadi.

Konstelasi koleksi Gucci dari Michelle kali ini tampak eklektik – sebagaimana karakter pemikiran Walter. Satu garis rasi yang dibuat oleh creative director Gucci ini adalah antara sensibilitas mode kontemporer dengan spirit sartorial era lampau. Rujukan fisiknya adalah show venue, yakni Castel del Monte di tenggara Italia yang dibangun oleh King Frederick II pada era 1240’an. Siluet-siluet sederhana sebagaimana yang juga diaplikasikan di Abad Pertengahan itu diadopsi oleh Michelle beserta elemen-elemennya, contohnya adalah pemanfaatan embroidery maupun fur di beberapa karya.

Akan tetapi, berbeda dengan code of fashion masa itu yang dominan tertutup, pada koleksi ini, Michelle tak jarang menyuguhkan pula kreasi-kreasi yang menunjukkan banyak permukaan kulit penanda liberasi mode modern, baik secara langsung maupun lewat fasilitas sheer fabrics. Keterhubungan konstelasional lainnya adalah dengan karakter desainnya untuk Gucci yang ia interpretasi ulang. Jika dilihat saksama, bisa terlihat gaya desain Michelle yang ia curahkan untuk rumah mode Gucci sebagaimana koleksi-koleksi lalu. Akan tetapi, kini palet pilihannya cenderung lebih harmonis dengan banyak penggunaan warna netral maupun yang cenderung monokrom.

Koleksi ini dikemas dalam sebuah show yang berkesan lebih dark dan occultist di bawah sinar purnama dengan terpaan peta bintang di dinding kastil. Mungkin ini sekadar coincidence dengan sosok Walter yang adalah penganut Jewish mysticism. Namun sebagaimana Walter menghasilkan pemikirannya akan sejarah yang didasari oleh pengalaman personal (hingga akhirnya ia memilih untuk mengambil nyawanya sendiri di Spanyol karena gagal dalam misi migrasi ke Amerika demi menghindari Gestapo), Michelle mengolah koleksi ini bukan dengan pendekatan impersonal akan sejarah Gucci melainkan merakit flashes of personal images selama ia berkarir di brand tersebut bersama dengan segala inspirasi lain di imajinasinya.

The cosmogonie of this collection is constituted by Michelle’s constellation of his own memories and expectations within the House of Gucci.