Inspirasi untuk berkarya bagi orang kreatif datang dari mana saja. Kadang, hal terkecil bisa memicu ide yang besar. Ini yang terjadi pada Simon Fujiwara, seniman Inggris yang membangun replika ‘Anne Frank House’ berdasarkan suvenir yang ia beli di toko oleh-oleh.
Simon Fujiwara dikenal dunia sebagai sosok seniman yang mampu menggali dalam misteri kemanusiaan. Karya Fujiwara kerap berhubungan dengan politik, biografi pribadi, dan arsitektur, yang berkaitan dengan latar belakang edukasinya di bidang yang sama di University of Cambridge pada tahun 2005 hingga 2008.
Kali ini Simon membangun instalasi museum dalam sebuah museum di Austria, tepatnya di Kunsthaus Bergenz. Sebagai salah satu karya arsitektur yang paling otentik di dunia, museum ‘Anne Frank House’ dibangun dengan detil yang luar biasa akurat sehingga bisa merepresentasikan bangunan aslinya – di mana Anne Frank bersembunyi dari para Nazi – kepada jutaan pengunjung yang datang.

Wallpaper bangunan ini, contohnya, telah dicocokkan sedemikian rupa dengan menggunakan wallpaper yang ditemukan di German Democratic Republic (GDR). Ini merupakan salah satu faktor yang menarik perhatian Fujiwara; sebuah hadiah untuk dunia, yaitu ‘Anne Frank House’, ditampilkan dalam balutan wallpaper Jerman. Ini mungkin saja bukan suatu hal yang pleasant bagi beberapa orang, namun menurut Fujiwara hal ini adalah contoh kemanusiaan yang faktual.
Dalam rekonstruksi ini Fujiwara mengganti beberapa objek dengan benda yang berkesinambungan dengan 2018, produk atau hal-hal yang menurutnya mengganggu dan membuatnya merasa tak nyaman, seperti topeng cokelat Pierre Hermé. Ditampilkannya topeng ini pun memiliki makna tersendiri.
“Awalnya, topeng ini membuat saya merasa geli, ‘bagaimana bisa sebuah negara yang pernah dijajah mengizinkan produksi artefak asli, dalam bentuk cokelat mewah, oleh negara penjajahnya? Cokelat dan Afrika dalam sebuah kaitan visual merupakan hal yang memancing banyak pertanyaan untuk saya.’ Ia seolah mengonfirmasi banyak prasangka. Kemudian saya menemukan keterlibatan faktor pemasaran; biji cokelat yang digunakan dalam pembuatan topeng ini berasal dari Ghana, artinya ekonomi lokal juga ikut didukung oleh gerakan ini,” ujar Fujiwara kepada Wallpaper*.

Topeng ini merupakan salah satu dari kumpulan objek di dalam ‘Hope House’, begitu ia menamakan instalasi ini, yang mempertanyakan kekuatan produk, juga kompleksitas serta kontradiksi yang dihadapi konsumen kontemporer. Seperti benda lainnya dalam instalasi ini, ia menghadirkan gabungan emosi; desire, disgust, sadness, excitement.
Miniatur dari ‘Anne Frank House’ yang ia beli di Amsterdam juga merupakan objek konsumen yang menggambarkan bahwa sesuatu yang buruk dan tragis kini telah diproduksi dan dijual sebagai suvenir. Namun pada saat yang bersamaan, objek ini juga menjadi simbol bahwa cerita Anne Frank tidak dilupakan. Ini juga menekankan bahwa di jaman sekarang semua hal saling berkaitan satu sama lain; filantropi, kapitalisme, harapan, teror, fantasi, fakta, dsb. Menampilkan sebuah paradoks konsnumen, mungkin saja misteri ‘Hope House’ tidak bisa dengan mudah dipecahkan.
Dirancang dengan detil mendalam, ‘Hope House’ bermain dengan selera, otentisitas, sejarah, serta sentilan sisi emosional kapitalisme. “Kini, ketika dunia kita semakin didasari oleh reaksi dangkal dan penilaian sederhana, bagi saya lebih penting untuk menciptakan sesuatu yang tidak menyajikan jawaban, melainkan pertanyaan-pertanyaan berlimpah yang dieksekusi dengan sempurna.”