Eksotika Bobby’s Gin Bersapu Rasa Rempah Nusantara

A taste of Indo-Dutch recipe.

 

The touch of Indonesian spices blended smoothly with the more familiar Gin composition, at that afternoon was (firstly) in the form of simple gin & tonic, a good way to have a “closer” experience with the base. We hope that Jim Prins, the co-founder and owner of Bobby’s Schiedam Dry Gin who visited Jakarta for its official launching in this country, could grasp well how we liked it as we had casual conversation about many topics – he told us he was lacking of sleep due to the jet lag.

Selalu menarik untuk merasakan sebuah hasil interaksi budaya dan terkait hal ini Bobby’s Gin punya ceritanya sendiri. It goes back to the 1950s. Pada masa itu, seorang pemuda asal Ambon bernama Jacobus Alfons bermigrasi ke Belanda. Sosok yang akrab dipanggil Bobby oleh keluarga dan teman-temannya ini suka dengan minuman khas negri kincir bernama genever. Berarti “juniper” dalam Bahasa Belanda, genever adalah “ancestor” dari gin.

Sebuah versi legenda menyebut istiliah “Dutch Courage” dilabelkan pada genever karena tentara Inggris meminumnya agar tak gentar melawan prajurit Belanda kala dulu berperang. Versi lain dari minuman yang sudah hadir di era 1500’an itu menyebut tentara Inggris melihat para prajurit Belanda meminumnya sebelum tempur sehingga lebih berani. Regardless of it, yang Bobby rasakan adalah kerinduan akan kampung halaman dan mendorongnya untuk memberi sapuan rasa Indonesia Timur pada minuman beralkohol yang sejak 2008 klasifikasinya diatur oleh pemerintah Belanda dan Uni Eropa (layaknya Champagne atau Cognac, hanya yang diproduksi di Belanda, Belgia, area tertentu Prancis dan Jerman yang bisa disebut Genever dan dengan komposisi tertentu).

Fast forward to 2012, Bobby’s grandson Sebastiaan and David were inspired to create something out of the story he heard about his grandpa’s unique recipe of genever called “Pinang Raci”. Mereka kemudian bertemu dengan generasi ke tujuh dari Master Distiller Herman Jansen yang mulai melakukan penyulingan pada tahun 1777. Menggandeng family business di Schiedam tersebut dan juga Jim yang ia temui pada sebuah momen, Bobby’s Gin perdana rilis di tahun 2014 setelah melewati proses pengembangan dan refining yang memakan waktu 2 tahun.

Proses penyulingan dalam membuat Bobby’s Gin dilakukan untuk setiap bahan yang digunakan. Serai, cengkeh, kayu manis, ketumbar, dan kemukus yang mewakili cita rasa Nusantara berpadu dengan juniper, rose hips, dan fennel dari khasanah western botanical. Semua dilakukan tanpa pengawet, gula, maupun ekstraksi. Peluncuran craft gin yang sudah tersedia di lebih dari 50 negara ini diisi degan kelas meracik cocktail oleh Stephen Arijono Busman, mixologist yang mengenyam pengalaman di award winning cocktail bar The Stockroom, Groningen. Di antara yang dipraktikkan adalah Bobby’s Spritz, Bobby’s Collins, dan Bobby’s Gimlet.

Bobby’s Gin yang dikemas dalam botol genever klasik bercetak motif tenun ikat Indonesia ini telah tersedia di seluruh outlet Red & White, ‘Minuman’ webshop dan didistribusikan secara merata di berbagai restoran, kafe dan hotel di Indonesia. Kehadiran produk ini tentu semakin memperkaya ragam pilihan konsumen di Indonesia. Ketika ditanya tentang iklim kompetisi di tengah ramainya pasar minuman alkohol, Jim tak khawatir dan melihat hal itu sebagai sesuatu yang baik bagi kreatifitas menciptakan ragam jenis suguhan. “I believe there is a room for a different flavour and ours has Indonesian flavour. So that the bartenders can use 5 to 7 different gins and make different drinks,” ucapnya.