Various enjoyments within less than an hour distance.
Day 2 in Bangkok around 11 in the morning, woke up at 28th floor and saw the city was soaking in the sunlight, the excitement to visit The Grand Palace revived. Rencana pribadi itu sempat tertunda 2 jam karena sebelumnya hujan – dan agak kecewa karena hal ini. Interval tersebut dipakai untuk tidur singkat setelah sarapan, and it’s indeed useful as the whole night got no chance of sleeping because of roaming service trouble (big thanks to the sim card’s operator who answered the “emergency” call at 4 am). Tak lama setelah memesan layanan mobil pengantaran via aplikasi transportasi online yang juga ada di Indonesia (tersadar betapa kemajuan teknologi memang jelas membawa banyak kemudahan), perjalanan ke situs kerajaan pun ditempuh kurang dari sejam.
Mungkin karena sudah lewat jam berangkat kantor, jalan menuju spot wisata bersejarah itu terbilang lengang sehingga perjalanannya bisa dinikmati dengan melihat kondisi sekitar kiri dan kanan. Yang menarik adalah selingan bangun-bangun semacam monumen yang membawa warna historis dan kultural dari Bangkok. Nuansa historis-kultural itu memuncak di kemegahan kompleks Grand Palace yang menjadi official residence raja-raja Thailand dari tahun 1782 sampai 1925. Kini sebagian bangunan masih dipakai untuk kepentingan resmi kenegaraan dan area lainnya menjadi magnet wisata para pelancong. Berdiri di lahan seluas lebih dari 200 ribu meter persegi, compund yang dibangun atas titah King Rama I dari Dinasti Chakri tersebut menjadi tonggak bersejarah kepindahan ibukota Thailand dari Thonburi ke Bangkok.

Dari Temple of Emerald Buddha, ancient library berisi Buddhist scripture, hingga golden stupa, tiap elemen Grand Palace punya kisah kesejarahan dan kebudayaan. Secara estetikapun daya tariknya istimewa dengan aura mystical dari unsur-unsur kesakralannya juga grandeur lewat aspek dekoratif nan colourful dan arsitekturalnya yang elaborate khas Thai. It was a wonderful cultural experience there although the weather was really burning (a tip: visit this site during the lunch time so you’ll meet fewer tourists inside). Tiba waktunya kembali ke hotel, saatnya buka aplikasi yang sama tapi kali ini versi motor. Selain karena memang butuh cara lebih gesit, tapi juga ingin mendapat pengalaman berbeda. Jalur balik ke hotel sepanjang 7 kilometer berhasil diakhiri dalam kurun 30 menit. Kali ini, wajah vintage Bangkok memperlihatkan diri berupa souvenir shops dalam bangunan-bungan lama di beberapa ruas jalan. Poetic.
Pukul dua siang, jadwal berbincang dengan Daniel James Kerr selaku General Manager Chatrium Grand Bangkok berlangsung di lantai 32.
Taste of Siam in The New Chatrium
In the middle of conversation with the GM, we took some tasty tidbits from the buffet, sweet and savoury, with a fresh mocktail (intentionally skipped our lunch but the breakfast was festive enough, so didn’t really feel hungry. We’ll talk about it later). Obrolan berlangsung di sebuah executive lounge dengan ambience elegan kecokelatan yang menyediakan all day refreshments untuk tamu yang menginap di tipe club room – just like ours. Berlatar kaca lebar menampilkan lansekap kota, perbincangan berlangsung seputar konsep hotel, which is the most premium among Chatrium’s properties.
“When you see things through their eyes, how excited and overwhelmed they are when they’re tasting dishes, the traffic, the nightlife, just how busy it is, it is amazing and then you really get to appreciate of what we have and how lucky we are to be based here. Mainly our guests love being in this area because it’s in the centre of everything. They can just walk outside and walk around,” ucap Daniel tentang bagaimana kepaduan hotel ini, oleh karena lokasinya, dengan apa yang ditawarkan Bangkok membentuk sebuah pengalaman travelling yang immersive bagi para tamu.

We agree on it, we experienced it ourselves during the stay. Inilah yang “ajaib” dari travelling. Bahkan kegiatan sederhana seperti berjalan santai ke area sekitar menjadi pengalaman berbeda. Cara kita berkesadaran dalam melihat sekeliling kembali layaknya persepsi anak-anak yang excited dengan lingkungan baru. It’s called a healing because it’s fulfilling. Entah short walking atau menggunakan buggy yang disediakan hotel, mal Siam Paragon mudah dijangkau. Setelah dari sana, langkah kaki beralih haluan mencari 7-Eleven sekadar beli jajanan lokal sembari “tukar receh” untuk uang yang ditarik dari atm di mal tadi – just in case. Sore itu, jalanan yang dilalui mulai ramai. Di sepanjang jalan mudah ditemui street food stands yang terbilang rapi.
Hari kedua di Bangkok akan berlanjut pada fine dining di hotel. Sedikit waktu yang tersedia sebelum bersiap makan malam dipakai untuk sejenak bersantai di kamar agar pulih dari dampak jalan kaki yang lumayan menyita energi. Televisi dihidupkan untuk menengok channel lokal. Meskipun tentu saja bahasa yang didengar tak bisa dimengerti, but it contributed to the total experience of being a traveller. Sambil mata menonton, mulut mengunyah kacang bumbu tom yam dan terkadang berganti ke keripik pisang yang disediakan hotel. Sebagai orang Indonesia tentu familiar dengan kudapan renyah itu, tapi bedanya keripik pisang di hotel ini didesain terdiri dari dua slices yang mengapit selai pisang di tengahnya.
Sentuhan lokal semacam snacks tersebut meninggalkan kesan tersendiri sejak hari pertama tiba di Chatrium Grand Bangkok. Bersama dengan sebuah bingkai berisi kain tradisional Thailand yang terlihat saat membuka pintu kamar, buah-buah lokal sebagai complimentary, serta amenities dari premium local brand Pañpuri, touches of locality menjadi salah satu strength point dari pengalaman menginap di akomodasi di bawah grup usaha City Reality milik keluarga pebisnis Thailand the Sophonpanich family. Satu kekuatan lainnya adalah hospitality. What’s better than being greeted with a nice smile in the morning as you’re about to have your breakfast? Bicara tentang sarapan, Chatrium Grand Bangkok menawakan buffet yang ekstensif di Savio.

Dari sajian Thai, Japanese, Chinese, Indian, hingga Western, beragam kreasi kuliner akan menyenangkan lidah Anda di restoran tersebut. We liked to enjoy our morning menu near the floor-to-ceiling window with the view of some greeneries outside. Di malam hari, Savio juga menawarkan hidangan all-you-can-eat yang sangat bervariasi. Beberapa live cooking stations akan memasak order Anda dan masakan akan diantarkan ke meja Anda langsung dari open kitchen tersebut. Masih teringat momen makan malam di hari pertama menginjakkan kaki ke Chatrium Grand Bangkok. Di antara berbagai kreasi dimsum, kami mengambil steamed seabass dan steamed shrimp bersaus cair. Also everything with Thai sauce, its sourness and spiciness, was refreshingly appetizing.
Pastikan pula untuk mengunjungi area dessert yang diisi oleh makanan-makanan penutup bertema kuliner kultural Thai – yang mengingatkan pada jajanan pasar. Salah satu yang unik menarik adalah cake dengan penggunaan unsur ketan. Menu-menu di Savio berada di bawah supervisi Executive Chef Darius Seitfudem dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di dapur profesional hotel-hotel bintang 5 hingga restoran-restoran Michelin di Eropa, Asia Tenggara, Australia, serta Timur Tengah. Menggunakan bahan-bahan lokal dalam mengkreasikan hidangan, Chef Darius dibantu oleh tim chef spesialis, yakni Chef Pravin Baban Gayke untuk Indian cuisine, Chef Natthawut Siha pada Chinese food, dan Chef Thunyaporn Sripadung di area dessert dan pastry.
Dinner hari pertama itu ditemani dengan hujan lebat beserta kilatan dan gemuruh guntur yang membuat pemandangan dari kaca tinggi restoran tampak lebih dramatis. Atmosfer Savio di malam hari memang jadi lebih elegan dan grand berkat pencahayaan temaram berkombinasi langit-langitnya yang tinggi juga jendela-jendela raksasanya. Well, it was only the first day but we couldn’t help to say hi to Bangkok’s night. Right after finishing the dinner, we went to IconSiam. Only 7 kilos from the hotel and we had a combination of luxury shopping centre with a cruise ship port at Chao Phraya River.
“How lucky we are to be based here. Mainly our guests love being in this area because it’s in the centre of everything.” – Daniel James Kerr, General Manager of Chatrium Grand Bangkok
A Comfort since Day 1
Grab Car yang kami tumpangi berhenti di Gate 7 IconSiam. Hanya mengikuti insting, jalan lurus menghantar pada area Sooksiam yang diisi rupa-rupa street foods hingga kerajinan tangan Thailand dalam dekor yang festive. It’s so tempting to explore yet we didn’t as it’s almost the closing hour of the mall. Keep going straight, we finally arrived at the River Park area, an open space with a port where cruise ships dock for passengers to embark or disembark. Kala itu, dermaga berhias cahaya lampu-lampu di sekelilingnya yang cantik berpendar selepas hujan. Dari spot inilah kemegahan mal terlihat. Logo high-brands seperti Hermès, Cartier, Louis Vuitton, dan Gucci terpampang di muka flagship stores-nya yang menghadap sungai.
Itu yang membuat pusat perbelanjaan tersebut menarik minat baik wisatawan mapun penduduk setempat. Di sana, modernitas urban menempel dengan unsur geografis penting dari Bangkok. Chao Phraya yang diartikan sebagai River of Kings membentang sepanjang ratusan mile dan berperan bagi masyarakat luas sejak dahulu untuk urusan transportasi, logistik, hingga pariwisata. Usai menikmati pemandangan dari wilayah dermaga, kami kembali memasuki mal hendak mencari akses menuju Napalai Terrace untuk melihat wajah kota Bangkok di waktu malam dari ketinggian. Begitu luasnya mal ini hampir membuat kami hilang arah dan menanggalkan niat tersebut, namun bak dituntun semesta, eskalator menuju titik di lantai 7 itu ditemukan tanpa sengaja.
So it’s there, kerlip Bangkok dari pencakar-pencakar langitnya membuai mata dengan dasarnya beraksen sungai yang dilintasi lalu-lalang pesiar-pesiar benderang. Atraksi air mancur hias cahaya berwarna yang tengah berlangsung di teras bawah semakin menambah semarak suasana. Pengumuman akan ditutupnya area menyadarkan kami untuk segera bergegas pulang dari mal yang November ini memasuki tahun kelimanya sejak dibuka pada 2018. Sepanjang berkendara pulang terlihat aktivitas warga kota selazimnya situasi di era modern dengan gedung-gedung dan jalur-jalur layang kereta BTS sebagai latar. Jika Anda pergi dalam kelompok, menggunakan tuktuk bisa jadi pilihan untuk suatu pengalaman lain khas Thailand.

Setiba di kamar hotel, kenyamanan bintang 5 merengkuh tubuh lelah namun berhati gembira. Galeri ponsel dibuka dan foto disortir. Sebagian untuk keperluan kantor dan lainnya kelak menjadi artefak kenangan personal. Teman saat itu adalah beberapa butir cokelat praline yang disediakan hotel dalam rantang kayu tingkat dua. Juga tak luput dari kenyaman adalah sejenis nastar namun dengan adonan agak gurih serta cookies renyah rasa mango sticky rice. Dua jenis cemilan ini termasuk dari 6 toples kecil kudapan yang diberikan hotel di mini bar kamar. Dengan ukuran 46 meter persegi, kamar ini terbilang cukup leluasa. Jika Anda pergi bersama lebih banyak anggota keluarga, ada tipe-tipe kamar lain yang bisa dipilih sesuai kebutuhan dari total 582 rooms dan suites di dua towers.
Kebutuhan dua kamar bisa terakomodasi oleh Executive Two Bedroom Suite seluas 119 meter persegi. Sementara keluarga yang lebih besar bisa memilih Three Bedroom Suite dengan lahan 170 meter persegi. Hanya ada 25 suites 3 kamar di hotel ini sehingga early booking disarankan untuk memastikan ketersediaan. Semua jenis suite dilengkapi dining table untuk secara optimal menikmati layanan in-room dining. Sebuah promo menarik yang berlaku hingga 29 Desember 2023 bisa Anda manfaatkan untuk pemesanan suite minimal dua malam. Program Suite Escape menawarkan potongan harga 10% dari best available rate dengan fasilitas daily breakfast dan airport transfer menggunakan mobil BMW.
On top of the top here, a 321 square metre penthouse is available for those who opt for the finest. In all room types, you won’t find a telephone. They replace it with a smart gadget equipped with AI technology that can be your source of information about the city or connect you with different hotel departments according to your needs. We tried once for talking with the concierge to book a taxi for our river cruise dinner – this is another story on the third day. The earlier fine dining experience we had at this hotel happened in Casia.
Experiencing Luxury
Dressing up a little fancier for a fine dinner, we spend a longer time indulging in Chef de Cuisine Jerome Bondaz’s 5-course menu within Casia’s elegant yet relax atmosphere. Letak restoran ini berada di lantai 7, tepatnya di samping area semi outdoor Flow Lounge tempat kami menikmati welcome cocktail pada hari pertama dengan pemandangan swimming pool 40 meter beraksen open pavilion khas Thai yang disebut sala. Sedikit membahas Flow dan kolam renang, area kedua fasilitas itu sejuk di mata berkat tetumbuhan yang ditanam. Rasanya seperti mini oase di tengah sibuknya metropolitan Bangkok. Jelang matahari terbenam, lampu-lampu area tersebut maupun pencahayaan gedung-gedung sekitar membuat suasana lebih elok.

Dipenuhi canda tawa sampai bahasan lebih serius, momen makan malam itu dilalui hingga agak larut. Usai suguhan choux karamel yang dikuti dengan petit four, Chef Jerome datang menyapa dan sedikit berbincang ringan. Sebelum memimpin restoran French-Mediterranean ini, ia telah menggali pengalaman di berbagai restoran Michelin di Eropa dan Asia. Termasuk di antaranya bekerja dengan legenda kuliner Spanish Chef Santi Santamaria di restoran Can Fabes, Barcelona, dan Monegasque Chef Alain Ducasse di Le Louis XV dan Le Grill, Monako. Kepiawan Chef Jerome sudah terkuak sejak 3 macam amuse bouche disajikan dalam presentasi yang elegan. Kontras tekstur dari raw seafood porsi mini dan cracker renyah menyapa lidah dalam kombinasi bumbu atau bubuhan saus yang flavourful.
Palet segar berlanjut dengan sepiring kecil salpicon olahan tomat, cucumber jelly, dan espuma legkuas. Tahap pertama menuju menu utama diisi dengan kreasi razor clam kaya rasa ditemani pasta vongale nan creamy. Mengikutinya adalah potongan squid yang dimasak gaya Mediterranean berpasangan zucchini dan tomato confit. Main course pilihan kami adalah Breese Pigeon yang lembut berpadu smoked leg confit, carrot layers, dan stuffed romaine leaves. Well executed. Sebelum kreasi penutup tersaji, cheese trolley berisi varian-varian keju didekatkan ke meja kami agar bisa dicoba. As the wine glass was poured with red selection, the Casia experience was remarkable and really recommended to the hotel guests and all Bangkok residents.
Menu-menu di Casia merefleksikan fresh local ingredients yang available sesuai musimnya dan berkombinasi dengan bahan-bahan impor dari produsen-produsen di Eropa. Jika Anda tidak sedang ingin menikmati rangkaian tasting menu, skema a la carte bisa menjadi alternatif. Ke depannya, dining venue yang beroperasi sejak Juni 2023 tersebut akan menyelenggarakan berbagai events seperti kolaborasi dengan guest chefs, wine experts, dan sebagainya. Usai menikmati makan malam, kami kembali ke kamar untuk beristirahat. Rencana awalnya adalah berlanjut pergi sendiri ke sentra street food Jodd Fairs setelah dinner, namun karena cukup larut hal itu diurungkan – but it wasn’t a big deal. Bangun dari tidur cukup pulas, kami lantas bersiap untuk kembali menjelajah Bangkok. This time using the skytrain and the station is accessible by walking from the hotel.

Jika suatu waktu Anda menginap di Chatrium Grand Bangkok dan merasa agak malas untuk pergi ke luar, Thann Wellness Sanctuary bisa jadi opsi menarik. Layanan spa premium lokal ini memiliki salt therapy inovatif, oxygen treatmet rooms, serta traditional Thai message untuk merelaksasi tubuh. Akan tetapi bila semangat masih menyala untuk mengeksplorasi kota, coba kunjungi galeri-galeri seni untuk melihat napas kreatif Thailand. Ini yang kami lakukan di hari ketiga dan Bangkok Art & Culture Centre menjadi destinasi tujuan. Saat bersiap di kamar, kami membuka tirai jendela dan matahari nampak bersahabat. Di bawah bisa terlihat liuk kanal Saen Saeb, sebuah jalur transportasi perairan ikonis kota ini, dengan perahu-perahu motor kecil yang melintas. Berdasar info pihak hotel, moda perjalanan yang disebut khlong itu telah digunakan masyarakat untuk pergi-pulang kerja sejak berabad-abad lalu.
Pemandangan khlong di kanal yang terlihat dari kamar sungguh menarik – it’s actually the first thing that sparked curiousity and interest the first time we arrived at our hotel room – tapi juga menyadarkan pikiran bahwa pada dasarnya realita masa kini di seluruh dunia sama adanya. Sebuah fakta bahwa kehidupan diisi dengan rutinitas keseharian dan segala problematika. Sibuknya masyarakat yang juga terlihat saat berada di dalam kereta BTS tentu menyimpan sisi-sisi suram dunia modern, mulai dari tekanan-tekanan ranah profesional hingga masalah-masalah personal. Seketika seorang ibu berjilbab menyapa rombongan kami di kereta. Ternyata ia berasal dari Indonesia yang tinggal sementara di Bangkok untuk pengobatan anaknya dengan diagnosis thalassemia. Gambaran lebih getir akan kesukaran-kesukaran manusia diperlihatkan lewat karya-karya fotografi James Nachtwey yang kami saksikan di lantai 7 Bangkok Art and Culture Centre.
Nachtwey adalah fotografer perang yang karya-karyanya sudah diterbitkan oleh publikasi-publikasi internasional seperti Time dan National Geographic. Terdapat 126 disturbing images dalam pameran yang diselenggarakan oleh Royal Photographic Society of Thailand hingga 26 November tersebut. Dari dampak buruk polusi industrial di Eropa Timur, kengerian perang di Irak juga Ukraina, serangan terorisme di New York, hingga genosida di Rwanda ataupun Sudan, hasil bidikan sang fotografer yang telah berkarir selama lebih dari 42 tahun itu begitu mengusik sanubari kemanusiaan. Sesampainya di hotel sehabis sehari penuh beraktivitas, kami menghidupkan televisi, menonton stasiun-stasiun berita dari banyak negara tak henti menyiarkan update kekacauan Gaza dan korban-korban jiwa yang berjatuhan. Saat itu, breaking news lokal menyebut sejumlah warga Thai turut menjadi sandera.

Late after midnight at the room, we took a shower then decided to turn most of the lights off. We opened half of the curtain to have a part of city scenery. Sitting on the chair with a cup of hot TWG’s peppermint tea and some snacks on the table, it felt so serene. On the earphone were chillin Thai pop songs streamed by a local radio station. An expression of gratitude was raised recalling all the delightful moments in the past three days, including the exquisite serve-to-table dinner during the Chao Phraya river cruise we had just experienced (another must-do here for it would take you seeing some of the historical buildings dressed up in light at night). At the same time, it was also a reflective moment on whether humanity will be restored entirely, why this world keeps going so wrong, and if a realization of this condition could even be useful for paving the way towards significant changes.
We then saw the lotus flower artwork on the wall. Bunga teratai, yang menjadi inspirasi karya seni Pongsatat Uaiklang untuk bedhead seluruh kamar Chatrium Grand Bangkok, punya pemaknaan dalam bagi penduduk Thailand via pengajaran Buddhisme. Meskipun tumbuhan itu hidup di lingkungan keruh, mekarnya tetap rupawan dan menawan. Lotus flower adalah simbolisasi purity, faithfulness, dan spiritual awakening. One question: have we become the lotus flower? No need to have an immediate answer on this. A thing for certain, rarer people are able to intentionally spend sometime to do the precious act of reflection upon that life matter. When something is rare and precious, isn’t it what so called luxury?