Trump and The Petrodollar Trouble.
Baru melewati tahun baru, dunia sudah dikejutkan dengan aksi Trump menangkap Presiden Venezuela atas tuduhan terkait narco-terrorism juga cocaine trafficking, dan seruan untuk menjalankan negara tersebut. Satu bumi sontak bereaksi.
Awalnya, saya ingin menulis tentang isu tersebut dari sudut pandang abuse of power serta impotensi penegakan hukum internasional. Akan tetapi, setelah dipikir lagi, kacamata itu tampaknya terlalu naif. Langkah Trump memang bold, namun bukan tak pernah terjadi sebelumnya, dan negara-negara powerful lain pun hingga detik ini melakukan hal serupa. Esensinya: serangan dilancarkan menembus teritori kedaulatan suatu negeri.
Kini, clue lanjutan dari keputusan Trump memberi sebuah gambaran lebih benderang. Presiden Amerika Serikat tersebut menyampaikan bahwa Venezuela sepakat untuk memberikan hingga 50 juta barel minyak yang terkena sanksi. Trump berjanji akan menggunakan hasil penjualan total minyak senilai USD 2,5 miliar (setara IDR 47 triliun) itu untuk kemaslahatan warga kedua negara. Ia lanjut mengiming-imingi akan menggerakan oil companies Amerika Serikat untuk menghidupkan kembali industri minyak dari negara dengan oil reserve terbesar di dunia itu. New drama, same plot: Petrodollar.

Di mata saya, tak hanya berkenaan wacana kuasa, kasus terbaru Trump dengan Venezuela ini menyingkap satu problem krusial dan mendasar dari peradaban. Yaitu bahwa sebegitu sentralnya peran minyak bagi kehidupan manusia modern, sampai si negara adidaya kalap untuk “mengamankan” sumber pasokan bagi oil companies-nya. Bisa dikatakan bahwa crude oil dan perusahaan pemrosesan minyak mentah adalah salah satu pilar utama civilisation.
Operasional transportasi dan mesin-mesin di seluruh dunia setiap harinya masih signifikan mengandalkan bahan bakar dari olahan crude oil, seperti diesel dan bensin. Turunan dari pengolahan minyak sebagai bahan bakar ialah petrochemicals seperti ethylene, propylene, benzene, toluene, dan xylenes yang digunakan untuk membuat plastik, bahan busana polyester hingga nylon, kosmetika, detergen, karet sintentis, sampai pupuk penyubur tanah. Kinerja industri-industri yang tak langsung berhubungan dengan minyak sekalipun (seperti teknologi atau finansial) ditopang oleh ketersediaan produk-produk olahan minyak. Singkatnya, hampir seluruh elemen hidup modern bergantung dengan pengolahan minyak fosil.
Situasi ketergantungan ini membukakan mata akan satu realita menyedihkan. Yakni betapa inovasi-inovasi canggih instrumen kemudahan hidup yang muncul di sepanjang sejarah, sesungguhnya dijejakkan pada mekanisme perekonomian yang self-destructive (dan berujung pada kontestasi kekuasaan yang intens).

Ambil contoh mobil berbahan bakar bensin. Si pencipta mungkin dengan polos berpikir bahwa ia sudah membuka jalan bagi suatu dunia yang lebih efisien dan nyaman, di mana orang tak lagi bersusah payah untuk bepergian dan mengangkut barang. Segenap umat yang hidupnya dimudahkan berkat inovasi automobile-nya pun berterima kasih kepadanya. Unfortunately, semua pihak untuk sekian lama tak mampu sampai pada concern bahwa bahan bakar untuk mobil tersebut merupakan aset tak terbarukan (non-renewable), yang akan menipis seiring meluasnya penggunaan secara masif.
Mata bisnis dari para ambitious entrepreneurs yang mengejar profit secara membabi buta memperburuk keadaan. Ketika melihat market besar, produksi digenjot sampai titik maksimal, bahkan excessive. Sadar akan pentingnya minyak di berbagai sektor, perusahaan ekstraksi dan pengolahan minyak menjamur tak terkendali, dan berlomba-lomba menjadi yang tercuan di mekanisme pasar bebas internasional. Kompetisi ekonomi yang impulsif pun akhirnya membuahkan tekanan politik antar negara yang agresif.
Apa yang sudah lama terjadi pada urusan perminyakan, juga mulai merambat ke wilayah industri teknologi. Trump kini secara terang-terangan mengincar Greenland yang ada di bawah otoritas Denmark. Pulau di belahan bumi utara itu menyimpan Rare Earth Elements (REEs) seperti Neodymium, Cerium, dan Europium yang dibutuhkan untuk komponen kendaraan listrik, komputer, baterai rechargeable, layar gadget, hingga alat-alat militer. Tentu akan sangat seru dan menarik, sekaligus mengkhawatirkan, bila stabilitas aliansi blok NATO runtuh akibat kegilaan Trump terhadap Eropa. Jejaring kekuasaan dunia bisa memiliki konstelasi baru yang tak bisa diprediksi konsekuensi pastinya (hopefully not World War 3).

Menurut pendapat saya, entah bagaimanapun peta baru perpolitikan dunia nantinya terbentuk, dunia akan terus bergejolak, selama sumber-sumber kekayaan alam yang substansial bagi keberlangsungan gaya hidup modern masih diserahkan pada mekanisme global free market yang berakar pada kerakusan akan uang; dan bila inovasi-inovasi teknologi yang sudah ada maupun yang akan terbentuk tak diarahkan pada pemanfaatan renewable energy sources.
Untuk menutup tulisan ini, saya akan menerjemahkan pendapat saya menjadi tiga usulan. Pertama, negara-negara di seluruh dunia harus dengan sukarela berembuk tentang bagaimana cadangan minyak bumi yang tersisa dapat dikelola secara kolektif dan adil untuk kepentingan bersama (bukan lagi keserakahan korporat). Kedua, bahwa inovasi-inovasi teknologi untuk mempermudah lifestyle wajib melewati evaluasi perihal sumber daya alam untuk mengoperasikannya; apakah cenderung bergantung pada yang renewable atau non-renewable. Ketiga adalah mentransformasi existing technologies yang luas dipakai masyarakat menjadi versi yang beroperasi lewat energi terbarukan. The clock is keep ticking…