Soetjipto Hoeijaja’s Eco-Collection for Plaza Indonesia Mens Fashion Week 2019

Talking about the design and environmental aspects of No’om No’mi latest collection.

 

You’ll see a lot of hot guys in the finale, ” ucap Soetjipto Hoeijaja sembari diiringi tawa dalam perbincangan kasual bersama The Editors Club di sebuah pizzeria selang beberapa jam sebelum show-nya dimulai, Kamis 26 September 2019. Sensualitas memang menjadi identitas peragaan busana No’om No’mi yang konsisten dipertahankan hingga saat ini oleh sang pendiri label. Ditanya mengenai alasan di balik hal itu, desainer yang akrab disapa Nono tersebut menjawab, “Menurut ku we must celebrate the sexiness in us. To look good and to feel good as our own self.” Ketika perayaan atas sexiness oleh No’om No’omi secara eksplisit terwujud dalam parade topless models di penghunjung show, sudut pandang Nono terhadap elemen looking good dan feeling good sebagai esensi dari konsep sexiness nyatanya – sebagaimana terlihat dalam koleksinya – tak terbatas pada “aksi” ekspos sebagian permukaan kulit, melainkan juga dalam cara membalutnya. Kenyamanan bahan menjadi pertimbangan penting dalam rancangan-rancangan No’om No’mi.

Untuk rangkaian busana terbaru yang ditampilkan di pehelatan Plaza Indonesia Mens Fashion Week (PIMFW), No’om No’mi melangkah lebih maju dengan pemilihan material yang bukan hanya nyaman tapi juga ramah lingkungan. “Aku cari bahan yang nyaman dipakai dan fabric Tencel dan Ecovero are some of the best,” ucap Nono yang juga mengungkap bahwa sejak tiga tahun lalu, No’om No’mi mengarah pada sustainable fashion. Tencel dan Ecovero adalah produk-produk perusahaan serat asal Austria, Lenzing Group. Sebagaimana dijelaskan oleh Mariam Tania, Lenzing Marketing & Branding South East Asia, yang berbagi meja saat berbincang bersama kami dan Nono, Tencel dan Ecovero bersifat biodegradable. Produk-produk dari perusahaan yang sudah berdiri sejak 80 tahun lalu itu diolah dari kayu-kayu pohon di hutan tersertifikasi untuk menjamin aspek sustainability. Sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban, setiap tahun perusahaan ini pun menerbitkan Lenzing Group Sustainability Report.

Semakin gencar mewujudkan industri mode Indonesia yang lebih ramah lingkungan, Lenzing Group yang hadir di Indonesia sejak lebih dari 35 tahun lalu kini tak hanya menggarap market korporasi melainkan juga merambah ke lingkup fashion designer. Edukasi lingkungan terkait tekstil untuk mewujudkan sustainable fashion di Indonesia mendasari langkah tersebut. “Sebelumnya kami sudah bekerjasama dengan perancang-perancang Indonesia lainnya seperti Patrick Owen dan Merdi Sihombing. Kami juga mengunjungi sekolah-sekolah mode untuk berbagi pengetahuan mengenai bahan baku ramah lingkungan,” cerita Tania tentang wujud misi edukasi yang telah dilakukan Lenzing Group. Melanjutkan upaya Lenzing dalam mendukung dan mendorong industri mode Indonesia yang berkelanjutan hadirlah Curated Show ‘Eco Age’ di PIMFW 2019 yang melibatkan kolaborasi Tencel dan Ecovero bersama No’om No’mi dan beberapa label lainnya, yakni Danjyo Hiyoji, Wilsen Willim, Amotsyamsurimuda, Studio Moral, dan Rigio.

Bagi Nono yang telah mulai bergerak ke arah mode berkelanjutan dengan me-rework koleksi lama, penggunaan pewarna alami, orientasi pada zero-waste, hingga optimalisasi sumberdaya lokal di sekitar area produksi, ajakan bekerjasama dengan Lenzing Group yang diinisiasi oleh Plaza Indonesia untuk gelaran PIMFW tahun ini tak sekadar menambah pengetahuannya mengenai produsen eco-friendly fabric tapi juga menjadi pemantik bagi kreatifitasnya. “Basically it’s designer instinct. It’s one of the challenge bahwa aku mau mencoba new fabric; how to create something more different for No’om No’mi. It’s something new,” ucap perancang yang mendirikan labelnya pada tahun 2010 itu. Sambungnya, “Produknya memang lebih soft dan this is a bit challenge. Butuh waktu untuk figuring out how to work with the fabric tapi memang sangat nyaman di badan. This is one of good choices for the future.”

Dalam mengolah bahan-bahan dari Lenzing Group untuk koleksi yang ditampilkan di PIMFW 2019, Nono melakukan berbagai treatment yang berbeda. Sebagiannya ia mix dengan karya-karyanya lalu yang disusun menjadi patchwork. Beberapa lainnya dipadukan dengan benang-benang bekas koleksi lama bahkan handuk excess stock. Berjudul ‘Jakarta Vanguard’, rangkaian desain No’om No’mi tersebut merefleksikan kacamata seorang Nono terhadap ibukota. “Jakarta is for everyone and a melting pot” dan “Jakarta adalah kota modern dengan problem lingkungan” merupakan dua kalimat sang desainer yang merangkum ide di balik busana-busana tersebut. Saat melihat hasil akhirnya di runway, tampak deretan contemporary wear dimana kerangka street style dibangun bersama unsur-unsur kultur tradisional Indonesia serta shade of imagination which brings the mind to a fictional city in the future where its inhabitants’ looks represents a mixture of casual attitude and style concern. One more important thing is that they put an effort to keep the environment sustains.

Malam itu pada runway show yang dibuka dan ditutup dengan lagu-lagu daerah, Nono melalui koleksi terbaru No’om No’mi kembali menyuguhkan sartorial statement yang bukan cuma strong tapi juga differently standout. Ketika banyak label menawarkan tampilan street wear yang utuh memanifestasikan nafas trend global, No’om No’mi menyajikan desain-desain dalam genre serupa namun dengan twist sentuhan rasa nusantara. Surely wearing those latest pieces of No’om No’mi, you won’t be another similar guys out there in their ultra-hyped (means: common) outfit; you’ll radiate a bold uniqueness instead. Bagaimana mungkin feeling of being distinctive itu tak muncul ketika yang Anda kenakan adalah potongan outerwear yang merupakan rework dari beskap dan rompi tradisional nan penuh karakter sekaligus stylish, atau juga yang berskema high collar dengan patchwork batik sebagai aksennya? More than that, seperti yang sudah disebut sejak awal, karya-karya tersebut merupakan bagian dari upaya membuat alam tetap lestari.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah aspek penting sustainability dalam koleksi initersebut akan memainkan peran signifikan di mata konsumen. Ini lah salah satu tantangannya. “Tantangannya juga adalah dalam mengedukasi konsumen dan menumbuhkan ketertarikan soal isu tersebut; menunjukkan bahwa mengupayakan sustainability memang bisa menjadi part of lifestyle.” Meskipun demikian, Nono mengambil perspektif optimis dalam melihat perkembangan topik sustainability. “It will be hard, tapi dengan big brands mulai peduli pada hal tersebut, masyarakat akan lebih terdorong untuk menyadari bahwa environment is something that we need to protect for our future and future generation.” Nada yang sama pun diutarakan oleh Tania yang mewakili Lenzing Group. “Kami optimis. Mungkin awalnya isu ini berkembang berupa tren tapi dari tren itulah bisa terbangun awareness tentang fashion sustainability. Oleh karena itu, kami ingin mengedukasi para desainer dan memberikan pilihan bahan yang bukan hanya bagus tapi juga ramah lingkungan. Merekalah trendsetter. Masyarakat melihat mereka dan hasil karyanya,” ucap Tania menutup sesi obrol kami.