Not a love story, yet a story of self-rediscovery.
Mungkin Anda pernah mendengar kisah-kisah sukses percintaan teman, kolega, maupun sanak saudara lewat jalur dating app. Akan tetapi, bila Anda sendiri merasa aplikasi serupa malah membuat dunia romansa jadi lebih frustrating, Anda tidak sendiri. Survey Forbes di 2025 melaporkan bahwa 78% pengguna mengalami dating app burnout. Berbagai pakar sudah cukup sering mengupas bagaimana aplikasi kencan bisa menghantar pada problem psikologis tersebut.
Di tengah fenomena itu, sebuah perspektif berbeda ditawarkan oleh Mira Sumanti, Brand & Creative Lead Google Southeast Asia. Dari perjalanan hidupnya, aktivitas petualangan di aplikasi kencan justru menjadi sebuah terapi diri yang memimpin kepada self-reflection dan kontemplasi lebih mendalam tentang the search of love and relationship. Hal tersebut, ia tuangkan dalam sebuah buku berjudul “Swipe Therapy”.
A therapy implies a great problem. In her case, hal tersebut adalah pembatalan pernikahan oleh kekasihnya kala itu; a last-minute cancellation where invitations had been sent and everything had been booked, including a hotel in Bali as a wedding venue. Berkelana hingga ke Bhutan – widely known as the happiest country on earth – untuk proses healing, terapi yang sesungguhnya justru dilalui lewat mekanisme swiping di aplikasi perjodohan.
Dari dating app, berbagai macam laki-laki ia temui dan setiap pertemuan membuka jalan bagi pembelajaran sekaligus penyembuhan batin. For a peek, the book begins with a spicy encounter involving a BDSM scene in a bar. Lelaki-lelaki berikutnya punya keunikan tersendiri, mulai dari neuroscientist yang memberinya perspektif ilmiah tentang patah hati, seorang sutradara film ambisius, sosok banker yang workaholic, hingga bahkan bintang porn film.
Dengan latar hidupnya sebagai eksekutif di Google, mindset Mira untuk merespon segala sesuatu secara “algoritmik” dan dengan data-driven analysis membuatnya menciptakan berbagai parameter kuantitatif sebagai indikator kualitas kencan maupun profil yang match. Rule of thumb pertama yang ia terapkan saat swipe-nya berbalas adalah menanyakan nama lengkap sang lelaki dan melakukan goggling nama tersebut. Bila lolos “verifikasi online”, barulah pintu ke tahap selanjutnya terbuka.
Berlatar Jakarta, Bali, San Francisco, hingga kehidupan malam Tokyo, Swipe Therapy dimaksudkan penulisnya bukan sebagai romantisasi proses healing yang utopis. Buku ini justru menekankan bagaimana jalan penyembuhan tersebut dilalui dengan ketidakteraturan. Tentang mencapai hari-hari tanpa tangis namun sesungguhnya masih penuh kalut. Tentang keinginan untuk terlihat kuat, padahal sesungguhnya masih berupaya untuk bisa bernapas dengan normal.
Dalam Swipe Therapy, dating apps tidak diposisikan sebagai pahlawan atau musuh. Ia hadir sebagai ruang eksperimen emosional, tempat Mira mengamati ulang pola relasi, ekspektasi, luka lama, dan keyakinan yang selama ini ia bawa ke dalam hubungan. Swipe Therapy adalah tentang keberanian merefleksikan hidup yang kerap padam ketika seseorang menghadapi badai besar dan harus memulai kembali dari awal.
Dijuluki Eat Pray Love versi generasi Tinder oleh beberapa reviewer, Swipe Therapy tidak menawarkan romantic escape atau transformasi instan. Isinya adalah kontemplasi jujur tentang kehilangan, kelelahan emosional, dan pertanyaan besar yang muncul ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana.
“Aku menyebutnya Swipe Therapy, setengah bercanda. Tapi semakin lama, aku sadar ini bukan tentang mencari ‘The One’. Ini tentang melihat diriku sendiri, swipe demi swipe,” Ungkap Mira, profesional global yang terlibat dalam proyek bersama Justin Bieber dan Snoop Dogg. Sambungnya, “Beberapa orang adalah cermin. Yang lain adalah pelajaran. Sebagian hanya hadir untuk menunjukkan apa yang tidak aku inginkan. Tidak semua yang berakhir berarti gagal. Kadang, sesuatu berakhir karena memang tugasnya sudah selesai.”
Presale Swipe Therapy secara resmi diumumkan beberapa waktu lalu, dengan peluncuran resmi dijadwalkan pada 3 Maret 2026 secara global dan akan tersedia di Amazon, Barnes & Noble, serta berbagai toko buku online internasional lainnya. Di Indonesia, Swipe Therapy akan tersedia di Tokopedia. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.swipetherapybook.com.