Fashion scenes in a Hollywood dream.
Tampaknya hanya Jhon dan Jon yang sungguh memahami dan menghayati identitas Dior. Jhon Galliano maupun Jonathan Anderson mampu memberi penafsiran yang berbagi spirit dengan konsep dream di angan Monsieur Christian. Kesamaan lainnya adalah bahwa ketiganya terlihat tak begitu peduli dengan arus tren atau selera zaman. They don’t follow a trending topic, they shape fashion conversation. Anderson menunjukkan attitude tersebut di koleksi Cruise 2027 yang begitu kental akan nuansa retro Hollywood seiring dengan rujukan industri perfilman yang menjadi inspirasi koleksi.
Sang creative director menemukan sejarah yang kuat antara rumah mode ini dengan kilat kamera dan layar perak di mana nama Lauren Bacall, Ingrid Bergman, Ava Gardner, Audrey Hepburn, Grace Kelly, Sophia Loren, hingga Marilyn Monroe and Elizabeth Taylor menjadi bintang benderang. Marlene Dietrich bahkan berkata, “No Dior, no Dietrich!”. Hal itu terlontar kala Alfred Hitchcock dan para eksekutif Warner Bros sedang bernegosiasi dengan aktris tersebut untuk film “Stage Fright” (1950).
Relasi sang founder dengan dunia film sudah terjadi sebelum ia mendirikan rumah modenya, di mana ia merancang kostum untuk “Le Lit à Colonnes” pada tahun 1942. Christian Dior menerima nominasi Oscar pada tahun 1955 atas desain kostumnya untuk “Terminal Station”. Di 1950, dua film yang turut melibatkannya dirilis, yakni “Les Enfants Terribles” karya Jean-Pierre Melville dan juga “Stage Fright” yang menjadi titik awal bagi koleksi ini. Lebih dari sekadar melihat kaitan erat antara Dior dan film, Anderson menangkap bagaimana karakter desain Monsieur Christian mengambil peran di kedua bidang pada zaman itu.
“Christian Dior understood how important the idea of ‘the dream’ was for people after the war – as a form of escapism. He explored this in couture…and, of course, Hollywood is ‘The Dream Factory’. It was all part of the same cross-cultural shift,” jelas Anderson. Mengambil tempat di dekat Wilshire Boulevard, area show didekorasi serupa set film dengan mobil-mobil antik terparkir di pintu masuk Los Angeles County Museum of Art (LACMA). Rich in texture and imbued with a dreamlike allure, Anderson’s first Cruise collection for Dior unfolds with whimsical, cinematic charm.

Opening look berupa dress warna buttercup yellow yang dihiasi rosettes menjadi pernyataan akan bunga sebagai motif yang terus berulang sepanjang koleksi. Hal itu berlanjut ke dress oranye terinspirasi oleh hamparan Californian poppies. Bentuk-bentuk floral kembali hadir di berbagai pieces dan aksesori, mulai dari bunga abstrak yang menjadi fastening dari red dress di bagian pinggang hingga sepatu berhias kembang dan sequins.
Referensi terhadap Los Angeles dan budaya Amerika muncul dalam berbagai bentuk. Mobil-mobil Amerika vintage menginspirasi serangkaian Saddle bags baru, dengan permukaan yang dibuat menyerupai car paint dan dilengkapi motor key charms. Lanskap kreatif kota tersebut juga tercermin dalam shirts yang dikreasikan melalui kolaborasi dengan seniman Ed Ruscha, yang eksplorasinya terhadap hal-hal sehari-hari maupun yang monumental menjadi salah satu titik referensi bagi visi Anderson tentang Los Angeles.
Referensi sinematik berlanjut melalui Dior Gray wool flannel coat yang dihiasi aksen geometris Venetian blinds, membangkitkan bahasa visual khas film noir. Di sepanjang koleksi, rancangan keseharian didekati melalui teknik couture. Sepasang distressed denim jeans dibordir dengan silver chain halus hingga tampak seperti serat kapas. Koleksi ini menyuguhkan approach yang memadukan unsur keseharian dengan fantasi visual. Too much? It seems there is no such thing as being overly dreamy when it comes to dressing up in Hollywood.