Reaching into the artistic voices of women globally.
“I am a Black Feminist. I mean I recognize that my power as well as my primary oppressions come as a result of my blackness as well as my womaness, and therefore my struggles on both of these fronts are inseparable.” – Audre Lorde.
Pernyataan dari pejuang perempuan asal Amerika tersebut cukup banyak menggambarkan bagaimana marginalisasi berlapis menimpa perempuan kulit berwarna oleh karena gender dan identitas rasialnya. Untuk waktu yang sangat panjang, peradaban manusia dibangun dengan poros dominasi laki-laki dan hegemoni narasi Barat di berbagai bidang. Bila sumbangsih para prominent white women saja terpinggirkan, lebih tak terlihat lagi kontribusi para women of colour. Termasuk dalam bidang seni.
Max Mara secara progresif membantu menavigasi sudut pandang dunia terkait realita tersebut, khususnya di bidang seni melalui inisiatif Max Mara Art Prize for Women. Dibentuk pada tahun 2005, biennial award ini bertujuan mendukung para female-identifying artists segala usia yang belum mencapai rekognisi artistik yang signifikan. Sejak 2007, ajang itu kemudian juga melibatkan Collezione Maramotti, yakni sebuah art body terkomposisi koleksi pribadi Achille Maramotti sang Maison founder yang berumah di Reggio Emilia (was the former brand’s HQ).
Sejak awal dicetuskan, Max Mara Art Prize for Women menggandeng Whitechapel Gallery di London, Inggris, sebagai mitra strategis dalam mengkurasi seniman-seniman perempuan setempat. Tak sekadar mendapat sebuah financial support, artist peraih penghargaan akan difasilitasi dalam sebuah tailored residency program di Italia oleh Collezione Maramotti. Hal ini dimaksudkan untuk membantu seniman bertumbuh dalam praktik seninya dan mengembangkan karya-karya baru lewat penyediaan berbagau resources maupun professional support. Karya-karya baru hasil residensi akan dipamerkan secara solo.
Program penghargaan tersebut kini telah berevolusi dalam satu pemahaman yang lebih multikultural. Setelah partnership dengan Whitechapel berakhir pada tahun 2025, Max Mara Art Prize for Women kini menggambil format nomadic dengan edisi kesepuluh (2025-2027) berbasis di Jakarta, Indonesia, dan Museum MACAN sebagai partner museum. Peraih penghargaan akan mengikuti residensi 6 bulan di Italia yang agendanya disesuaikan minat dan kebutuhan perupa. Hasik riset dan pengkreasian karya-karya selama residensi akan ditampilkan di partner museum serta di Collezione Maramotti.
“Given its significant achievements within the UK art scene, I am more confident than ever in the direction that Max Mara and Collezione Maramotti are pursuing. As we take this initiative to the global stage, the prize will serve as an even more effective and significant springboard, advancing the careers of artists from a rich tapestry of cultures worldwide,” ungkap Luigi Maramotti, President of Max Mara Fashion Group, mengenai format baru ajang penghargaan seni Max Mara.
Kurator pertama yang dipercaya untuk babak baru dari penghargaan ini adalah Cecilia Alemani, Director and Chief Curator of High Line Art di New York. Bekerja bersama Max Mara dan Collezione Maramotti, Alemani memilih negara, serta mitra institusi, sekaligus merancang sebuah kerangka kolaborasi internasional serta dukungan struktural bagi seniman perempuan di berbagai belahan dunia. Dewan juri untuk edisi kesepuluh Max Mara Art Prize for Women, yang diketuai oleh Alemani, terdiri dari Venus Lau (Direktur, Museum MACAN), Amanda Ariawan (kurator), Megan Arlin (galeris, ara contemporary), Evelyn Halim (kolektor seni), and Melati Suryodarmo (perupa).
Untuk tahun ini, terdapat 5 finalis dari Indonesia yang berkesempatan meraih penghargaan seni dari Max Mara. “While they come from different cities, different background and formations, what they commonly share is a celebration of female creativity and innovation, and they do that in a very personal way, which is something that I really appreciate because they can really bring their own biographical experience onto universal stage,” jelas Cecilia Alemani, Kurator Max Mara Art Prize for Women.
Venus Lau selaku Direktur Museum MACAN merasa terhormat untuk berkolaborasi dengan Max Mara dan Collezione Maramotti dan melihat bahwa kesempatan residensi yang diberikan begitu berharga untuk seniman terpilih maupun ekosistem seni Indonesia yang lebih luas. “Max Mara Art Prize for Women mendorong lahirnya percakapan baru tentang representasi, kesempatan, dan perspektif, sekaligus menempatkan praktik perupa perempuan Indonesia dalam dialog global yang lebih setara,” tuturnya.