Jason Broome, Direktur Rolls-Royce Jakarta, Berbagi Perspektif tentang The Super Marque

Pristine quality meets personal character.

 

I think from what we understand from the presentation that we’ve seen from Goodwood is the market that is open to Rolls-Royce is getting a little bit younger,” Jason Broome berbagi pengamatannya kepada The Editors Club sesaat sebelum Rolls-Royce Ghost terbaru meluncur secara global di 1 September lalu. Broome yang menjabat Managing Director Rolls-Royce Motor Cars Jakarta terhitung mulai Januari 2020 punya rentang pengalaman luas perihal luxury cars. Pun bukan kali pertama ia memegang Rolls-Royce.

Telah berkecimpung selama lebih dari 20 tahun dengan nama-nama seperti BMW, Bentley, hingga Lamborghini, Porsche di berbagai negara seperti New Zealand sampai Saudi Arabia, sosok yang mengaku suka dengan makanan-makanan Indonesia ini juga menjadi bagian dari Rolls-Royce melalui Sime Darby Motors di Hong Kong beberapa tahun silam. Analisisnya dalam melihat pasar luxury cars dan bagaimana sebuah marque berkembang ialah alasan dibalik posisinya saat ini. Plus dirinya memang punya passion di dunia otomotif. Berbincang dengan The Editors Club saat dinner di hotel Four Seasons Jakarta, ia bercerita kesukaannya menunggangi Ducati di waktu luang.

Di mata Broome, Rolls-Royce telah mengambil langkah-langkah positif bagi eksistensinya, termasuk dalam hal wajah baru logonya yang dirilis bertepatan dengan peluncuran Ghost baru. Sebagaimana desain logo ciptaan design firm Pentagram tersebut merupakan simbolisasi identitas yang merangkul klien generasi muda, Ghost baru pun (model tercanggih Rolls-Royce saat ini) dilihat Broome sebagai wujud upaya brand tersebut untuk merepresentasikan seri Ghost yang adalah seri tersukses Rolls-Royce – dan karenanya bersifat strategis dan penting – dengan cara yang tepat agar atraktif bagi klien lebih muda.

We naturally have customers who already have Rolls-Royce products that might look to the Ghost and say ‘OK, so it’s the right time for me to tried it up, trade in my existing model to buy the new Ghost’. It might be customers from competitors brand that looks to the Ghost and say ‘Well, this is something I really aspire to,” ujar Broome mengenai misi yang diembannya dari peluncuran model terbaru Rolls-Royce. Secara umum, ia menyatakan bahwa tentunya dalam setiap dikeluarkannya model baru, yang diinginkan ialah menghasilkan hasil positif, termasuk mengenai brand awareness, bahwa Rolls-Royce menempati posisi leader di wilayah super luxury vehicle.

Now let’s take a short ride into the opulence of Rolls-Royce.

 

Speaking of Bespoke
Butuh waktu lebih dari satu dekade bagi kemunculan Ghost baru – edisi perdananya meluncur pada tahun 2009 – dan Broome melihat hal ini sebagai satu cara menjaga eksklusifitas produk Rolls-Royce.

Bahkan meskipun sama menyandang nama Ghost, model baru ini tak bisa sekadar dilihat sebagai turunan pendahulunya. Torsten Müller-Ötvös, CEO Rolls-Royce mengatakan, “The only components that we carried over from the first Goodwood Ghost were the Spirit of Ecstasy and umbrellas. Everything else was designed, crafted, and engineered from the ground up.” Mulai dari kecanggihan Micro Environment Purification System untuk menjamin kualitas udara terbaik, kelembutan suara mobil berkat sekumpulan mekanisme redam kebisingan, teknologi entertainment teranyar, Wi-Fi Hotspot, fitur self-park, sistem suspensi yang terintegrasi kamera untuk “membaca” permukaan dengan bantuan fungsi Satelite Aided Transmission dan dikelola sebuah software untuk pengalaman magic carpet ride menjadi keunggulan Ghost terbaru.

Akan tetapi, semua kehebatan itu tak akan lengkap membentuk identitas sejati Rolls-Royce tanpa diiringi dengan satu kekhasan lain, yakni layanan bespoke untuk tiap unit mobil. It is not too much to say that the bespoke service is what defines Rolls-Royce. Seperti dikatakan Broome, Rolls-Royce adalah tentang “what’s on your wish list.” Papar Broome, “The nice thing about Rolls Royce that we do over the customers is almost no level that we can’t go to, and that makes us very special in the automotive industry; to be able to cater for people’s needs, especially in different environments, different climates, and very different cultures. What you would see commissioned in England, for example, to what you would see commissioned in the Middle East to what you see in Asia, there is almost no similarities.

Dalam proses pemasaran dan penjualannya, unit-unit display akan selalu siap untuk dieksplorasi Anda yang hendak membelinya. Untuk keperluan ini, biasanya Broome memilih berdasarkan pengamatan mengenai warna eksterior dan interior yang populer selama 2 tahun terakhir. Lebih dari itu, yang penting untuk ditampilkan melalui unit display itu adalah elemen-elemen personalisasi agar klien mendapat gambaran tentang hal-hal apa saja yang bisa dihadirkan pada mobilnya nanti. Seperti kerap disebut Broome, opsi personalisasinya hampir tak terbatas. Pada prinsipnya, semakin tinggi price positioning yang klien tentukan, maka semakin luas pula cakupan personalisasi yang akan didapat.

So we start with the basic car, the fundamental with the standard features and functions of that particular model. And then we’d sit with the customer and ask what is important to you, what are you gonna use the vehicle for, what do you like about your current vehicle,” tutur Broome mengenai proses dasar dalam pembuatan sebuah unit Rolls-Royce untuk kliennya. Dari informasi yang didapat itu, tim Rolls-Royce juga akan memberi masukan tentang fitur-fitur yang akan bermanfaat bagi klien. Mobil selanjutnya akan diproduksi sesuai wish list tersebut.

Karena begitu tingginya level personalitas dari merk mobil pilihan keluarga kerjaaan, petinggi-petinggi negara, hingga pengusaha-pengusha sukses ini, perihal cat mobil pun mendapat perhatian serius. Seperti dikutip dari artikel Business Insider mengenai merk mobil yang didirikan oleh Henry Royce dan Charles Rolls pada tahun 1904 tersebut, klien bisa melakukan custom warna berdasar apapun yang disukainya (tim Rolls-Royce pernah membuat pesanan warna mobil berdasar warna anjing peliharaan). Skema warna impian seorang klien akan diregistrasikan sebagai warna spesifik klien tersebut, dan ia bisa memberi nama untuk warna itu.

Jika di masa depan ada yang ingin menggunakan warna tersebut, maka pihak brand akan menghubungi pemilik warna untuk meminta izin. Hingga kini sudah terdaftar lebih dari 44.000 palet. Dalam proses pewarnaannya, cat akan terdiri dari lapisan primer, base coats, dan lapisan warna yang secara total jumlahnya bervariasi mulai dari 7 lapis sampai bahkan 23 lapis. Klien juga dapat menambah material tertentu pada cat untuk menghasilkan efek menarik. Contohnya salah seorang klien ingin mendapat efek kilau sehingga satu tas berlian yang ia sediakan dihaluskan sebagai campuran cat.

Personalisasi lain juga bisa dilakukan pada Starlight Headliner, yakni hamparan bintang-bintang (yang juga menampilkan shooting stars) dari rangkaian fiber-optic pada langit-langit interior mobil. Seorang klien disebut meminta dibuatkan Starlight Headliner sesuai konstelasi perbintangan pada malam kelahirannya. Hal serupa pun dapat dilakukan pada The Gallery, yakni bagian pada dashboard di Rolls-Royce Phantom yang berfungsi sebagai pernyataan estetis dari pemiliknya. Beberapa yang pernah dibuat ialah The Gallery yang menampilkan rangkaian 3.000 iridescent tail feathers serta The Gallery dengan porcelain-replica dari mawar yang secara eksklusif dibiakkan untuk Rolls-Royce.

Keindahan interior Rolls-Royce juga bisa terwujud melalui custom embroidery cantik seperti pada Rose Phantom yang terdiri dari 1 juta individual stitches (proyek embroidery terbesar yang pernah dilakukan tim Rolls-Royce). Atau jikalau Anda menggemari luxury brand tertentu, misalnya dari dunia fashion maupun timepiece, dan ingin menginkorporasi karakter dan elemen brand itu pada Rolls-Royce Anda, pilih jalan sebagaimana ditempuh oleh hotel Four Seasons Paris George V yang memesan Hermès-inspired Rolls-Royce Phantom untuk menjadi layanan pengantaran tamu dalam rangka perayaan 80 tahun berdirinya hotel pada tahun 2008 silam. Bagian-bagian interior mobil itu mendapat sentuhan craftsmanship Hermès.

Sebagaimana dijelaskan Broome, dalam cases semacam itu dimana klien menginginkan elemen personalisasi dari luxury brand lain, maka pihak Rolls-Royce akan menjalin kontak dengan brand bersangkutan dan berdiskusi untuk proyek klien tersebut. Secara pribadi, perwujudan layanan bespoke yang memorable bagi Broome adalah yang dilakukan The Peninsula Hong Kong pada tahun 2006. Semasa ia menangani Rolls-Royce melalui Sime Darby Motors itu, hotel tersebut memesan 14 unit Phantom EWB sekaligus (single order terbesar Rolls-Royce pada masa itu) yang diperuntukan bagi layanan transportasi kepada para tetamunya.

The most memorable one I can remember is for the Peninsula Hotel in Hong Kong. They wanted to move the heater control from the center of the car to the rear of the door of the car area to make it easier for the customer to adjust the temperature inside the car,” kenangnya. Terkait layanan bespoke ini di Indonesia, Broome berbagi sedikit informasi bahwa kini tengah digarap video wawancara dengan seorang klien Rolls-Royce di Indonesia dengan unit mobil Rolls-Royce yang unik.

Entah itu menambahkan ornamen cantik maupun mengubah fitur-fitur fungsional, layanan bespoke dari Rolls-Royce menciptakan nilai spesial nan unik bagi tiap pemiliknya. Tiap kreasi Rolls-Royce merupakan representasi personal dari patronnya, dimana pristine quality diaplikasikan hingga elemen terkecil. Mengutip perkataan Henry Royce, “Small things make perfection but perfection is no small thing.

 

The Future and the Dream
Seiring dengan perkembangan zaman, pemaknaan akan kemewahan pun mengalami evaluasi. Hari ini, nilai sebuah luxury brand bukan hanya ditentukan oleh level kualitas maupun citra opulence, melainkan juga dengan bagaimana merk tersebut beresonansi dengan isu-isu kontemporer peradaban. Termasuk di antaranya adalah problem lingkungan. Being ethical is the new luxury. Artinya, nama besar Rolls-Royce sebagai super luxury car yang mapan melalui 116 tahun perjalanannya pun kini memikul tanggung jawab untuk turut andil dalam persoalan sustainability. “What I know about the production facility is they heavily heavily involve in making sure they are as environmentally-friendly as possible,” ucap Broome menanggapi pertanyaan tentang relasi Rolls-Royce dan topik lingkungan.

Terletak di Goodwood, Inggris, seperti dikutip dari situs resmi Rolls-Royce, fasilitas manufaktur Rolls-Royce yang berdekatan dengan South Downs National Park tersebut tak hanya dikelilingi oleh keindahan pemandangan alam tapi juga dirancang untuk menjadi ramah lingkungan. Merupakan hasil desain arsitek ternama, Nicholas Grimshaw, situs produksi yang dirancang selama 4,5 tahun tersebut hadir dengan curved living roof seluas lebih dari 3 hektar yang ditumbuhi tanaman hardy sedum. Hal tersebut membantu insulasi gedung dan mengurangi rainwater runoff. Eksterior gedungnya terbuat dari kombinasi limestone dan cedar wood dari sustainable sources.

Floor-to-ceiling windows pada Assembly Hall dari fasilitas ini menyediakan cahaya alami matahari bagi para craftspeople yang bekerja. Timber louvre panels yang diaktivkan oleh sebuah weather station di atap gedung mengkontrol banyak cahaya yang memasuki gedung dan mengurangi kebutuhan listrik. Danau besar di area manufaktur ini – yang menjadi tempat bermain burung-burung liar – menampung kelebihan air sehingga mencegah terjadinya banjir. Lahan area manufaktur seluas hampir 17 hektar pun telah ditanami 400 ribu tumbuhan dan pepohonan yang mencakup lebih dari 120 spesies. Sebanyak lebih dari 60% waste yang dihasilkan situs produksi ini didaur ulang. Melalui desain gedung yang dirancang dengan konsiderasi lingkungan ini, yang beroperasi sejak tahun 2003, Rolls-Royce menyatakan telah mengurangi energy footprint sebanyak 29% per motor car dalam waktu 5 tahun.

Tak hanya dari segi proses produksi, komitmen Rolls-Royce dalam menjaga lingkungan juga dimanifestasikan pada kreasi-kreasinya. “With regards to the vehicles, I think you’ll find that the vehicles now produce very minimum amounts of emissions compared to even 5 years ago,” terang Broome yang kembali menegaskan bahwa Rolls-Royce melihat isu lingkungan secara serius. Ia pun menyingung soal manfaat penggunaan material aluminium pada Rolls-Royce dimana semakin ringan bobot maka semakin efisien pula ekonomi bahan bakarnya terhadap jarak tempuh. Begitu pun dengan keputusan Rolls-Royce untuk memakai turbo-charged engine. “The move to turbo-charged engine means that the vehicle becomes be able to produce the same amount of power but use less fuel,” jelasnya yang juga mengatakan “So there are strides in moving things forward to make sure the vehicles are as environmentally-friendly as possible.

Kini trend diskusi mengenai sustainability bidang otomotif mengarah pada bahasan mobil elektrik. Banyak riset menyebut bahwa electric car merupakan alternatif transportasi ramah lingkungan yang patut dilirik karena emisi yang dihasilkan lebih kecil dibanding yang berbahan bakar petrol. Akan tetapi, seperti dikutip dari artikel The Guardian berjudul “How Green are Electric Cars?”, kelebihan mobil elektrik dalam soal dampak lingkungan pun masih diperdebatkan. Hal tersebut lantaran proses produksinya – yang melibatkan produksi baterai – dan keseluruhan life cycle mobil jenis itu yang masih membebani lingkungan. Dengan asumsi dan harapan positif, terobosan dan inovasi dunia otomotif akan terus dilakukan pelaku-pelaku dunia otomotif sehingga tercipta moda transportasi yang eco-friendly. Untuk saat ini, Rolls-Royce pun tengah mengembangkan kreasinya yang memanfaatkan skema elektrik.

Dalam artikel Financial Times berjudul “Rolls-Royce to Switch to ‘Full Electric’ Cars by 2040”, CEO Rolls-Royce, Torsten Müller-Ötvös, mengatakan bahwa langkah brand ini menuju mobil yang dimotor baterai lebih dikarenakan dorongan legal terkait hukum yang akan diberlakukan di berbagai negara dibanding pertimbangan lingkungan – karena ia melihat bahwa sesungguhnya mobil-mobil Rolls-Royce tak pernah digunakan secara ekstensif dan jarang untuk jarak jauh dimana hal ini akan berkaitan dengan emisi. Artikel tersebut menyebut bahwa terkait regulasi emisi, pemerintah UK akan melarang penjualan non-electric cars pada tahun 2040. Langkah serupa diikuti Prancis dan Jerman juga tampak mengarah ke sana. Pemerintah Cina bahkan ingin agar pada tahun 2025, seperlima mobil baru yang diproduksi berskema elektrik.

Analisis serupa terkait perkembangan mobil di masa depan juga diutarakan Broome. “I think a lot of the changes that are coming in the future are government imposed, not industry imposed,” ujarnya. Lebih lanjut ia membandingkan dengan topik autonomous-driving cars dimana industri tampak bersemangat terhadap hal tersebut sementara pemerintah punya pertimbangan-pertimbangan lain. Ia mengatakan, “Let say the autonomous driving. This is industry imposed but restricted by the government whereas electric vehicles are being enforced by the government, by the regulations.”

Left – Henry Royce ; Right – Charles Rolls

Seperti apa nantinya mobil Rolls-Royce elektrik? Semua penggemar dunia otomotif tentu excited sekaligus penasaran. It might be sooner to be revealed. Seperti dibocorkan Hal Serudin, Asia Pacific Corporate Communications Manager at Rolls-Royce Motor Cars, pada launching Ghost terbaru, electric cars besutan Rolls-Royce akan meluncur dalam dekade ini. Yang pasti, terpenting dari upaya-upaya pengembangan itu bukan hanya perihal menciptakan dream car dengan segala kecanggihan fitur, kehebatan performa, maupun estetika desainnya, tapi juga bagaimana sebuah alat transportasi dapat mengakomodasi sustainable living yang sangat krusial bagi keberlanjutan peradaban manusia.

Akankah jalan menuju eco-friendly and sustainable mode of transportation itu dapat ditempuh secara lancar dan mudah? Semoga saja, tapi mungkin juga akan penuh tantangan. Sebagai penyemangat dalam menjalani prosesnya – dan juga akan relevan untuk diterapkan pada jenis kesulitan apapun pada masa pandemi ini – mari tengok kembali kisah-kisah sukses figur-figur dunia yang dengan niat kuat dan upaya maksimal mengatasi tantangan dan hambatan hingga mencapai kesuksesan. In the world of luxury some names can be mentioned.

Louis Vuitton saat remaja berjalan kaki selama sekitar 2 tahun dari tempat asalnya di Anchay dan bekerja selama perjalanan hingga tiba di Paris kemudian belajar membuat trunk, sampai akhirnya sukses merintis labelnya. Kisah haute couturier Gabrielle Chanel dimulai sebagai anak panti asuhan yang hidup bergulat dalam kemiskinan. Henry Royce sudah harus bekerja di usia 9 tahun. Ia menjual koran dan menjalani pekerjaan sebagai telegram boy sebelum membangun jalan panjang menuju kesuksesan Rolls-Royce. Pengalaman sosok-sosok tersebut bagai mengukuhkan kebijaksanaan tua yang mengatakan, “where there’s a will there’s a way.