Fiksi Musim Semi Max Mara tentang Agen Rahasia

A female Bond.

 

Fiksi adalah aspirasi yang menginspirasi. Siapa yang tak terpesona dengan skill mata-mata ala James Bond dan attitude-nya yang flamboyan? Akan tetapi sejarah fiksi agen rahasia tampak punya problem tersendiri. Di manakah sosok perempuan dalam genre fiksional itu? Tentu saja menyedihkan bila figur perempuan dalam cerita sejenis direduksi hanya sebatas lakon semacam Bond Girl; not empowering enough. “Fiction needs more female spies,” ucap penulis feminis Natasha Walter. Secara humoris atau juga satiris, ia pun mengatakan, “after all, women are trained to keep secrets.” Kutipan-kutipan ini menjadi pembuka dari penjelasan Max Mara mengenai koleksi Spring/Summer 2020.

Atas kritik yang disampaikannya, Natasha Walter telah menyumbang buah karya novel berjudul “A Quiet Life” dimana perempuan menjadi titik utama.  Di antara masih sedikitnya kisah-kisah female secret agent, serial Killing Eve di BBC Amerika menjadi contoh lain yang disebut Max Mara terkait inspirasinya untuk rancangan-rancangan musim ini. Phoebe Waller-Bridge sang penulis serial itu telah diminta untuk memberi sentuhan pada naskah film James Bond terbaru berjudul “No Time to Die”. Ia berjanji untuk membuat kisah Bond dapat memperlakukan perempuan secara proper.

Di antara berbagai fiksi yang ada mengenai secret agent perempuan yang berada di balik karya-karya Max Mara kali ini, “Modesty Blaise” menjadi yang utama. Karakter perempuan yang menjadi intel karya Peter O’Donnell itu pertama dirilis pada tahun 1963. Membangun karir dengan usaha keras hingga menjadi bagian dari upper class society, Modesty adalah sosok perempuan yang meradiasi elegansi, eksklusivitas, intelektualitas, keberanian, dan pesona kecantikan. Ian Griffith, Creative Director Max Mara, memiliki imajinasinya sendiri terhadap sosok Modesty. Fiksi ciptaannya menghubungkan Modesty dan agen rahasia 007; bukan sebagai Bond Girl melainkan sebagai female Bond.

Sebagaimana tertuang pada runway Max Mara, karakter fiksional Griffith meradiasi karakter kuat seorang intel cerdas dengan fashion taste nan sophisticated. Spy-style trenchcoat, three-piece trouser suits berpundak tajam, bush jacket, dan Whitney bag tampil pada peragaan busana dibuka oleh wajah Candice Swanepoel, Gigi Hadid, dan Doutzen Kroes dalam balutan rancangan bergaya militer berpalet abu-abu tersebut. Selanjutnya hadir karya-karya bermotif polkadot. Koleksi kali ini pun diisi dengan tropical military uniforms, multi-pocketed shirts, dan celana pendek yang cocok untuk bertualang. Untuk kesempatan berbeda, Max Mara menyajikan rok motif paisley hingga pastel gowns. Sentuhan cuteness pun hadir lewat penggunaan warna-warna pastel tersebut; sebuah dinamika segar pada koleksi bernuansa women empowerment ini.