Eclectic opulence.
Sejak Jonathan Anderson menjabat di Dior, banyak pihak menunggu dengan berdebar-debar untuk melihat bagaimana ia akan mengembangkan dunia Dior. Koleksi Menswear Fall/Winter 2026 merupakan koleksi prianya yang kedua, but the hype for it is even bigger than before. Dalam koleksi ini, Anderson mempresentasikan visinya akan seorang “Dior Aristo-youth”: eklektik, tetapi tidak melupakan tradisi dan keanggunan.
Seperti koleksi sebelumnya, Anderson melihat ke masa lalu untuk membangun masa depan. Kali ini, ia mengacu kepada Paul Poiret, seorang perancang revolusioner di Paris pada awal tahun 1900-an. Kreasi Poiret dikenal akan siluet yang fluid dan bagaimana ia memetik inspirasi dari budaya Afrika Utara, Timur Tengah, dan Asia Timur. Referensi ini melebur dengan kode-kode khas Dior dan eksentrisitas segar khas Anderson untuk merangkai koleksi yang dengan berani menunjukkan edginess-nya. But don’t get it wrong – tailoring is still the focus.
Gubahan Bar Jacket musim ini datang dalam kain denim dan dipasangkan dengan cargo shorts. Para model berjalan dengan rambut kuning terang, mengenakan jubah dan jaket bervolume besar bermotif oriental. Epaulette berkilau menghiasi kemeja lengan panjang hingga kemeja polo. Fur cuffs memberikan perhatian tambahan kepada siluet yang megah dan mengembang. Kami rasa, karya-karya Anderson di koleksi ini dapat dikenakan dengan indah oleh para perempuan juga, seperti Anya Taylor-Joy mengenakan jubah sutra dari koleksi ini untuk menonton pertunjukan Dior Haute Couture Spring/Summer 2026.
If the mission is to make a statement and spark conversations, then this collection has achieved that purpose. Ada tema teatrikal, punk, hingga tradisi aristokrasi yang teranyam dalam story koleksi. Keberanian Anderson dalam bereksperimen dan memberikan napas baru dalam warisan mode seakan menyalur ke kreasinya, lending us that same boldness as we carry ourselves in his creations.