Dena Rachman: Dampak Kritik Standar Kecantikan pada Isu Identitas Transpuan

Beauty diversity and transwoman identity.

 

At one afternoon when people were busy bustling with their own work – an ordinary moment which now becomes extraordinary because of the coronavirus pandemic – The Editors Club sat down with Dena Rachman. Agendanya adalah berbincang tentang satu topik kontemporer yang juga punya signifikansi personal baginya: beauty diversity and transwoman identity.

Dalam beberapa tahun ke belakang, kritik terhadap standar kecantikan yang menggiring pada perayaan atas keberagaman dan inklusivitas bukan hanya hadir di kelas akademik maupun NGO, melainkan beredar secara intens di industri hiburan, mode, dan kecantikan. Melalui ekspos media masa pada wacana tersebut, industri pun mengubah haluan produk maupun iklannya seturut popularitas konsep keberagaman kecantikan yang inklusif – yang ditakutkan oleh banyak pihak sebagai tren semata; yakni gimmick kapitalisme sebagai wujud oportunistik dalam mengeksploitasi “semangat” suatu era untuk meraup profit.

Beauty ideal jelas tengah ditantang dalam situasi yang menyerukan body positivity. Sebuah masa dimana label kosmetik Fenty Beauty ciptaan Rihanna dinobatkan Time sebagai salah satu nama di daftar 25 Best Inventions of 2017 lantaran dilihat mengakomodasi inklusivitas melalui 40 warna foundation dan menampilkan keberagaman model dalam advertising campaign; model plus size seperti Jill Kortleve semakin sering dijumpai pada berbagai fashion show ternama, mulai dari Alexander McQueen hingga Valentino. Tak hanya menyentuh poin self-worth dan self confidence seorang perempuan, perlawanan terhadap krtiteria-kriteria kecantikan kuno juga berpengaruh terhadap wacana keperempuanan seorang transpuan; antara feminitas dan identitas.

Dahulu kriteria “passing” menjadi semacam norma di dunia transgender. Seorang transgender dinyatakan “passed” jika bisa berbaur dengan masyarakat tanpa diketahui bahwa dirinya adalah seorang transgender (mengasumsikan level tinggi “kenaturalan” tampilan maupun aspek lain dari ekspresi gendernya). Kini dengan semakin kritisnya bahasan soal standar kecantikan perempuan, dimana feminitas dan kecantikan dirayakan dalam konteks keberagaman, passing menjadi satu hal yang dipertanyakan. Masih relevankah persoalan definisi dan krtiteria-kriteria femintas yang harus dicapai oleh transpuan?

 

Dena Rachman: Transwoman and Ciswoman are Woman

“Bagi aku body issue dan trans issue adalah dua isu yang berbeda tapi saling beririsan,” ucap Dena Rachman, transpuan pengusaha dan aktivis LGBTQ kala berbincang dengan The Editors Club pada awal Maret lalu. In sleeveless black dress, sitting on chair with a Dior handbag of contrasting color besides her, confidently and mindfully she elaborated the topic. Ia mulai dari pengalaman penghayatan identitas yang mendasar bagi seorang trans. “Transgender adalah seseorang yang punya pengalaman gender yang berbeda dengan apa yang di-assigned pada saat lahir.”

Premis yang melandasi wawanacara dengan sosok yang juga memiliki label sepatu Drama ini penting untuk digarisbawahi guna melihat beda mendasar antara body issue dan trans issue. Ketika seorang trans mengalami ketidaksukaan pada anggota-anggota tubuh tertentu, hal itu bukan cuma berada dalam konteks visi estetika ideal atau kepercayaan diri melainkan menyangkut totalitas identitas sebagai seorang individu. Pada sebagian kasus, pengalaman konflik antara penghayatan gender dan tubuh lahiriah menciptakan sebuah kondisi mental yang disebut dengan gender dysphoria. American Psychiatric Association menggambarkan gender dysphoria sebagai kondisi dimana seseorang mengalami significant distress akibat konflik gender dan ketubuhannya.

“Bagi aku body issue dan trans issue adalah dua isu yang berbeda tapi saling beririsan.”

 

Problem gender dysphoria ini memang lazim dijumpai pada banyak hidup transgender. Akan tetapi, yang mungkin juga banyak belum diketahui masyarakat luas ialah bahwa tak semua transgender mengalami gender dysphoria. Sebagian orang menyadari kondisinya sebagai transgender tanpa gender dysphoria melainkan lewat experience lain yang disebut gender euphoria, yakni sebuah pengalaman merasa nyaman atau bahagia ketika mengekspresikan aspirasi gendernya yang sejati. Contohnya adalah ketika seorang transpuan merasa bahagia dan fulfilled saat mengenakan dress namun tetap nyaman untuk mengenakan pakaian laki-laki bahkan tak merasakan level distress – alias bisa mentoleransi dan “tak terganggu” – dengan karakter tubuh laki-laki yang belum diubahnya meski perbedaan antara penghayatan gender dan ketubuhan tetap ada di dirinya.

Dalam perbincangan dengan Dena, fokus bahasannya ada pada kasus-kasus ketika seorang trans menolak tubuhnya dan jadi tidak mencintai dirinya. “Being a trans, you have to embrace it. Bukan berarti ia harus menolak tubuhnya. You were born that way. It’s ok untuk dilahirkan punya soul perempuan tapi fisiknya berbeda,” ungkap pemilik agensi Future Models Indonesia itu. Self-acceptance dan self-love menjadi konsep yang amat ditekankan saat Dena berbincang perihal topik transgender. Di titik ini lah, ia pun mengeksplorasi persinggungan antara topik identitas dan feminitas transgender dengan perkembangan tema beauty diversity and inclusion serta body positivity di masa kini.

Ditanya soal seberapa krusial seorang transwoman perlu berupaya agar tampak seperti ciswoman (seorang yang terlahir perempuan dan menghayati identitas gender perempuan), perempuan alumni Universitas Indonesia dan Universitas Bolgna itu menjawab, “Semakin orang terbuka dengan beauty diversity, kaum trans lebih menyadari bahwa menjadi transgender tak serta merta berarti perlu menjadi seperti cisgender. Kalau memang tidak mau operasi atau terapi hormon tapi tetap mengidentifikasi diri sebagai perempuan, it’s ok.” Sambungnya, “Sesama ciswoman pun beda-beda bentuk tubuhnya. Ada yang berotot, ada yang kecil. Kelompok transpuan juga memiliki bentuk tubuh berbeda-beda. Ada yang tinggi besar, ada yang petite. Variasi genetik itu tidak me-negate identitas mereka sebagai perempuan.”

Dengan kata lain, sebagaimana ciswoman tetaplah woman dalam keberagaman bentuk tubuhnya (yang bisa sangat dekat atau sangat jauh dari kriteria feminitas konvensional), transwoman pun adalah woman dalam keberagaman bentuk tubuhnya. Jika ikatan antara feminitas dan bentuk tubuh terputus, pertanyaan yang lebih mendalam kemudian apakah yang mendefinisikan seorang perempuan. What makes a woman?  Embrace your self. Aku menerima bahwa bagaimanapun juga aku adalah transpuan. There is nothing wrong with it. For me cis-woman and transwoman are woman,” ucap Dena, pemilik program Youtube “Bebi Talk” yang membahas ragam hal mulai dari HIV hingga seksualitas dari sudut pandang agama.

Lanjutnya, “Identitas perempuan adalah soal soul dan psychology; ketika seseorang punya konsep diri yang lebih banyak mengidentifikasikan pada femininitas.” Dalam perspektif Dena, value dari tindak mempertanyakan identitas keperempuanan seorang transpuan bergantung pada konteks pengaplikasiannya. Baginya memang fair bila keperluannya adalah untuk kepentingan medis. “Ada care yang dijalani oleh transwomen dan ada yang dijalani hanya oleh ciswomen,” ungkapnya. Di urusan relationship, ia pun melihat bahwa fair bagi laki-laki untuk mendapat kejujuran dari seorang transpuan mengenai identitasnya. Namun jika perbedaan ketubuhan transwoman dan ciswomen dipakai untuk segregasi soial maka menjadi tidak adil.

 

The Significance of Support System

Dari kacamata Dena, secara global terlihat perkembangan dalam hal pengakuan transgender. Kala diminta pendapat soal Ángela Ponce, transpuan pertama yang dinobatkan sebagai Miss Spain 2018 dan turut berlaga di Miss Universe, Dena menyebut hal itu sebagai sebuah progress besar, yakni bahwa transpuan sudah bisa merepresentasi perempuan secara general di ajang itu. Di Indonesia sendiri, kondisinya memang belum berubah signifikan. Ia menemukan bahwa transgender di Indonesia masih terdiskriminasi secara sistem. Contoh-contoh problem yang disebutnya adalah banyaknya kaum transgender yang tak bisa mengakses fasilitas kesehatan karena tak punya KTP hingga mereka yang memilih jadi pekerja seks komersial karena tak punya kesempatan dan tak diberi kesempatan oleh sistem.

Beauty comes in a lot of forms dan sangat relatif.”

 

Nyatanya kondisi seperti itu tak cuma berada di Indonesia. Artikel Vox berjudul “Coronavirus isn’t Transphobic but America’s Economic and Health Systems are” mengulas bagaimana dampak coronavirus bagi kaum trans serta diskriminasi yang sudah menimpa mereka di Amerika jauh sebelum pandemi virus ini terjadi. Mengutip data National Center for Transgender Euality, artikel itu menyebut bahwa 3/4 kaum transgender mengalami diskriminasi berdasarkan identitas gender di tempat kerja. Lebih dari 1 dari 4 transgender dipecat dari pekerjaan karena identitas gendernya. Perjuangan untuk mendapat perlakuan adil bagi kelompok transgender tampak masih sangat panjang. Lawan debat dalam proses perjuangan itu pun datang dari beragam spektrum ideologi; bukan hanya dari kaum konservatif.

Sama pentingnya dengan upaya memperjuangkan keadilan bagi kaum transgender dalam sendi-sendi kehidupan publik, ranah kehidupan personal dari seorang transgender pun krusial. Self-acceptance dan self-love, sebagaimana disampaikan Dena, perlu menjadi tema sentral. “Embrace your own self” menjadi mantra untuk menghayati diri secara positif. “Beauty comes in a lot of forms dan sangat relatif,” ungkap Dena; sebuah pernyataan yang mendorong refleksi kritis bagi siapapun dalam melihat sosok perempuan (mencakup di dalamnya transpuan), dan khususnya kepada transpuan untuk bertanya apakah ekspresi tampilan – maupun upaya-upaya mengalterasinya – dilakukan semata sebagai manifestasi penghayatan gender dan visi estetik atau mungkin dibayangi oleh elemen kebencian pada diri sendiri.

Di samping self-acceptance dan self-love, dukungan orang-orang terdekat pun menjadi salah satu kunci bagi tercapainya kualitas hidup yang baik dari individu-individu transgender. “Keluarga aku memilih untuk mencintai aku. Teman-teman aku juga supportive. Mereka menjadi support system aku. At the end of the day, what makes a family is love,” ucap Dena yang berperan turut menjadi cameo di Gossip Girl Indonesia dan mengaku tak punya rencana spesifik ke depan. “I want to always improve my self and I want to make impact,” pungkasnya.