7 Gleams to Know in the World of Haute Joaillerie

These high jewellery brands do not only create sparkle, they tell stories.

 

Saat berbicara tentang fine jewellery, nama Cartier tentu tak bisa dilewatkan. Siapa yang tak terpesona dengan feline beauty dari Panthère de Cartier? Nada serupa pun bisa dikatakan mengenai Bulgari dengan nuansa mythical pada kemewahan Serpenti. Chopard menggaungkan level vibrasi yang sama melalui romantisme koleksi Happy Diamonds. Ketenaran tiga luxury brand tersebut memang tak dapat diragukan. Terlebih, ketiganya punya relasi yang cukup dekat dengan kultur selebritas. Mulai dari Chopard yang mensponsori Cannes Film Festival selama 20 tahun, Bulgari yang amat dicintai legenda Hollywood Elizabeth Taylor (Liz memakai kreasi brand ini di film Cleopatra), hingga yang terbaru adalah gambaran opulensi Cartier di film Ocean’s 8 dalam wujud replika kalung historis Jeanne Toussaint.

 

Beberapa brand perhiasan di bawah ini mungkin belum cukup familiar bagi Anda. Namun sebagaimana Chopard, Bulgari, dan Cartier, nama-nama berikut juga merupakan wujud dari definisi haute joaillerie.

 

 

Garrard

Rintisan label ini didirikan oleh George Wickes di London, Inggris, pada tahun 1735. Sebelum akhirnya dikendalikan seluruhnya oleh Robert Garrad, perusahaan tersebut sempat dipimpin oleh dua apprentice Wickes. Sejarah pertalian erat Garrard dengan keluarga Kerajaan Inggris dimulai saat Prince of Wales, Frederik Lewis, menjadi klien Wickes. Pada tahun 1843, Queen Victoria menunjuk Garrard sebagai Crown Jewellers. Selama lebih dari 160 tahun, Garrard secara resmi bertanggung jawab terhadap urusan perhiasan lain dari anggota keluarga Kerajaan Inggris, termasuk Queen Elizabeth II serta Prince Charles dan Princess Diana. Engagement ring Pangeran William dan Kate Middleton merupakan buah karya Garrard yang aslinya diperuntukkan bagi pertunangan ayah-ibu dari Duke of Cambridge itu. Meski sejak tahun 2007, Garrard bukan lagi Crown Jewellers, brand ini tetap memegang Royal Warrant dari Prince of Wales.

 

 

Chaumet

Kisah brand ini dimulai oleh pendirinya, Marie-Etienne Nitot, pada tahun 1780 di Paris, Prancis. Nitot merupakan official jeweller dari Napoléon Bonaparte. Engagement rings dan wedding bands Napoléon dan Josephine dirancang olehnya. Mengalami beberapa kali pergantian pemilik, pada tahun 1885 bisnis ini dipegang oleh Joseph Chaumet, di mana nama belakangnya dijadikan sebagai nama brand. Salah satu anggota keluarga kerajaan yang menjadi klien Chaumet adalah Yeshwant Rao Holkar II yang merupakan Maharaja Indore, India. Pada awal Juli tahun ini, Chaumet merilis koleksi Tresors D’Afrique yang sebagiannya didesain oleh seniman Kenya, Evans Mbugua. Pada 28 Juni – 17 September 2018 di Tokyo, Jepang, Chaumet menggelar pameran “The Worlds of Chaumet: The Art of Jewelry since 1780”. Highlight dari eksibisi ini adalah tiara milik Pope Pius VII yang merupakan hadiah dari Napoléon.

 

 

Fabergé

Meski didirikan di St. Petersburg, Russia, Fabergé memiliki “darah” Prancis. Gustav Fabergé yang mendirikan brand ini pada tahun 1842 merupakan keturunan dari keluarga Prancis yang kemudian bermigrasi ke wilayah Russia. Anak pertamanya, Peter Carl Fabergé, mengambil alih kepemimpinan perusahaan pada tahun 1882. Kiprah label ini kian memuncak kala Tsar Alexander III meminta dibuatkan Easter egg sebagai hadiah untuk istrinya pada tahun 1885. Dari tahun ke tahun, pembuatan Easter egg ini menjadi sebuah tradisi di keluarga Kerajaan Rusia. Dari 50 kreasi Easter egg yang dibuat hingga tahun 1916 (Pada 1917 terjadi Revolusi Rusia), hanya 43 yang survive dan kepemilikannya tersebar pada beberapa orang dan institusi. Beberapa di antaranya adalah Prince Albert II of Monaco, keluarga Kerajaan Inggris, dan museum Kremlin Armoury. Faberge juga membuat Easter egg untuk private client lainnya, termasuk keluarga Rothschild.

 

 

Boucheron

Boucheron adalah luxury jewellery brand pertama yang menghadirkan butik di pusat perhiasan Prancis, Place Vendôme, yakni pada tahun 1893. Didirikan oleh Frédéric Boucheron di Paris pada tahun 1858, Boucheron merupakan salah satu label perhiasan yang dipercaya oleh banyak keluarga kerajaan di seluruh dunia. Kabarnya Tsar Alexander III of Russia dan anggota keluarganya selalu mengunjungi butik Boucheron kala berkunjung ke Paris. Pada tahun 1928, Boucheron mengerjakan salah satu proyek besar dalam sejarah perhiasan. Maharaja Patiala, India, yang bernama Bhupinder Singh datang kepada Boucheron dengan membawa beberapa kotak penuh batu permata untuk dibuatkan kreasi perhiasan. Hasilnya adalah 149 ragam perhiasan, mulai dari tiara hingga kalung. Merayakan ulang tahunnya yang ke-160 pada tahun ini, Boucheron merilis koleksi Nature Triomphant berisi cincin berhias kelopak bunga asli dan bubuhan permata.

 

 

Van Cleef & Arpels

Kisah cinta mengawali perjalanan brand perhiasan Prancis ini. Pada tahun 1895, Alfred Van Cleef menikahi Estelle Arpels yang merupakan anak dari pebisnis batu permata. Bersama keluarga Arpels, Van Cleef membentuk Van Cleef & Arpels pada tahun 1906. Cerita cinta pun menjadi latar dari penciptaan kreasi-kreasi label ini. Salah satunya adalah Jarretière bracelet yang diberikan Duke of Windsor kepada Wallis Simpson pada tahun 1937 sebagai peringatan pernikahan mereka nan berliku (King Edward VIII mundur dari tahtanya untuk menikahi American socialite tersebut). Kreasi Van Cleef & Arpels pun menjadi pilihan Prince Rainier of Monaco untuk bertunangan dengan aktris Grace Kelly pada tahun 1956. Juga terkenal dengan nuansa fantasi yang terwujud dalam kreasi rupa balerina maupun peri, pada tahun ini hadir koleksi Quatre Contes de Grimm yang terinspirasi dari empat dongeng Brothers Grimm, yakni The Twelve Dancing Princesses, The Golden Bird, The Three Feathers, dan Town Musicians of Bremen.

 

 

De Beers

De Beers sebagai label perhiasan resmi meluncur pada tahun 2001. Meskipun demikian bukan berarti brand ini adalah pemain baru dunia jewellery. De Beers bermula sebagai perusahaan tambang berlian pada tahun 1888 yang didirikan oleh Cecil Rhodes. Kriteria 4C untuk menilai kualitas berlian yang terdiri dari Cut, Colour, Clarity, dan Carat dipopulerkan oleh De Beers pada tahun 1939. Hingga kini komponen penilaian itu menjadi standar umum untuk menentukan kualitas berlian. Memanfaatkan kecanggihan teknologi dalam menyasar segmen yang lebih muda, pada tahun ini induk usaha De Beers memasarkan kreasi perhiasan berlian sintetis produksi laboratorium di bawah lini baru bernama Lightbox. Berlian non-natural tersebut akan hadir dalam warna pink, biru, dan putih.

 

 

De Grisogono

Fawaz Gruosi adalah tokoh di balik berdirinya De Grisogono pada tahun 1993 di Geneva, Swiss. Terlahir dalam latar belakang sederhana, Gruosi memulai langkahnya di dunia perhiasan sebagai staf di butik perhiasan lokal di Italia. Ketekunannya membuahkan hasil hingga ia mengenyam pengalaman kerja di beberapa brand perhiasan mewah. Dengan modal yang terkumpul, Gruosi memulai usaha perhiasannya sendiri. “Manufacture, creativity, glamour — this is our D.N.A.,” demikian penuturan sosok berdarah Lebanon-Italia tersebut kepada The New York Times pada tahun 2016 silam mengenai kreasi-kreasi De Grisogono. Kreativitas karya-karya De Grisogono mewujud pada desain-desain yang daring. Contohnya adalah Crazy Skull yang berupa tengkorak.